Tahun 2025 membawa banyak tantangan baru bagi sektor energy, natural resources, and chemicals (ENRC). Di satu sisi, teknologi seperti IoT, AI, dan sistem pintar makin banyak digunakan. Di sisi lain, risiko siber dan tekanan regulasi juga ikut meningkat. Akibatnya, keamanan siber tak bisa lagi dipandang sebagai urusan teknis semata.
Peran Chief Information Security Officer (CISO) kini semakin penting. Mereka tidak hanya menjaga sistem IT, tapi juga bertanggung jawab atas jaringan operasional, infrastruktur penting, dan bahkan budaya keamanan di seluruh organisasi.
Artikel ini membahas bagaimana peran CISO di sektor ENRC sedang berubah, apa saja tantangan utamanya, peluang strategis yang bisa dimanfaatkan, dan langkah nyata yang bisa dilakukan untuk memperkuat ketahanan digital perusahaan.
CISO Bukan Lagi Penjaga Gerbang IT – Mereka Arsitek Masa Depan Digital
Dulu, CISO dikenal sebagai penjaga sistem IT—yang duduk di ruang server, memastikan firewall aktif dan antivirus berjalan. Tapi sekarang, perannya sudah berubah drastis.
Di sektor energi, sumber daya alam, dan kimia (ENRC), CISO dituntut menjadi lebih dari sekadar teknisi. Mereka adalah pemimpin strategis yang harus mampu menyatukan teknologi, bisnis, dan budaya kerja.
Apa Tanggung jawabnya?
- Menjaga jaringan operasional (OT) yang kritikal,
- Mengamankan ribuan perangkat IoT di lapangan,
- Menjamin infrastruktur tetap berjalan saat serangan siber terjadi.
Menurut riset KPMG, 70% CEO di sektor ini percaya bahwa ancaman siber bisa menghambat pertumbuhan bisnis dalam tiga tahun ke depan. Itu bukan angka kecil. Itu sinyal kuat bahwa keamanan siber kini bagian dari strategi bisnis utama, bukan sekadar urusan IT.
Artinya, CISO harus duduk satu meja dengan CEO dan CFO, bicara soal risiko bisnis, bukan cuma update patch.
Dan yang paling penting—mereka harus jadi agen perubahan, membangun budaya digital yang sadar risiko dari ruang rapat hingga lapangan tambang.
Baca juga : Memahami Insting Chief Information Security Officer (CISO) dari Ancaman Siber
Tantangan Khusus di Sektor ENRC
Sektor energy, natural resources, and chemicals (ENRC) adalah salah satu yang paling rentan terhadap serangan siber. Mengapa? Karena sektor ini mengelola infrastruktur penting dari pembangkit listrik, kilang, hingga sistem distribusi energi. Bila sistem terganggu, dampaknya bisa sangat besar, bahkan lintas negara. Di bawah ini adalah empat tantangan utama yang dihadapi CISO di sektor ini:
1. IT dan OT Semakin Menyatu
Dulu, sistem teknologi informasi (IT) seperti server, email, dan software bisnis dikelola terpisah dari Operational Technology (OT) seperti mesin produksi, sensor, dan kontrol otomatis. Sekarang, keduanya mulai terhubung karena kebutuhan efisiensi dan digitalisasi.
Hal ini membuat risiko keamanan meningkat. Satu serangan ke jaringan IT bisa menjalar ke sistem operasional, dan menghentikan proses produksi. Misalnya, malware di jaringan kantor bisa menjangkiti sensor di pabrik atau kilang.
CISO kini harus mengerti cara kerja proses industri, bukan hanya soal komputer dan data. Mereka harus bisa menghubungkan tim IT dan tim lapangan agar semua sistem tetap aman dan berjalan lancar.
2. Serangan Siber Semakin Masif dan Terorganisir
Ancaman siber di sektor ENRC bukan lagi dari peretas individu, tetapi sering kali datang dari kelompok terorganisir, bahkan negara. Serangannya juga makin besar.
Contohnya, pada Mei 2023, Denmark mengalami serangan siber terbesar dalam sejarahnya. Sebanyak 22 perusahaan infrastruktur penting, termasuk penyedia energi, terkena dampaknya. Beberapa perusahaan terpaksa menjalankan sistem secara offline, alias “island mode”, demi menyelamatkan jaringan dari kerusakan lebih lanjut.
Ini menunjukkan bahwa serangan siber bisa mematikan seluruh layanan publik, bukan hanya merusak data. CISO harus siap menghadapi ancaman skala nasional, bukan hanya gangguan kecil.
3. Aturan dan Regulasi Makin Ketat dan Kompleks
Setiap negara atau wilayah punya regulasi keamanan siber yang berbeda. Di sektor ENRC, perusahaan harus mematuhi berbagai aturan seperti:
- NIS2 di Uni Eropa untuk infrastruktur penting,
- NERC CIP di Amerika Utara untuk sistem kelistrikan,
- dan regulasi baru seperti AI Act yang mengatur penggunaan teknologi kecerdasan buatan.
Tantangannya, regulasi ini sering berubah dan semakin kompleks. CISO harus memastikan perusahaan selalu patuh tanpa menghambat inovasi. Di sisi lain, mereka juga harus sigap ketika menerapkan teknologi baru seperti IoT, AI, atau cloud, agar tidak bertabrakan dengan peraturan yang berlaku.
4. Transisi Energi dan Tekanan ESG (Environmental, Social, Governance)
Perusahaan ENRC kini didorong untuk bertransformasi ke arah yang lebih berkelanjutan. Artinya, mereka mulai menggunakan energi terbarukan, mengurangi emisi, dan memperhatikan aspek sosial.
Untuk itu, perusahaan mengadopsi teknologi baru seperti:
- AI untuk perawatan prediktif,
- panel surya pintar,
- sistem penyimpanan energi canggih,
- monitoring real-time berbasis IoT.
Semua inovasi ini tentu membawa manfaat, tapi juga memperbesar permukaan serangan siber. CISO harus bisa menilai risiko setiap teknologi baru, dan memastikan sistem yang ramah lingkungan juga tetap aman dan tidak mudah diretas.
Baca juga : Mengenal Konvergensi IT/OT: Risiko dan Keuntungannya
Peluang Strategis untuk CISO di Sektor ENRC
Di tengah banyaknya tantangan, peran CISO di sektor energi, sumber daya alam, dan kimia sebenarnya penuh peluang. CISO bisa memberikan nilai strategis, bukan cuma menjaga sistem tetap aman, tapi juga ikut mendorong kemajuan bisnis.
1. Menjadi Mitra Strategis Direksi
Dulu, CISO sering dianggap bagian dari tim teknis saja. Sekarang, mereka bisa duduk bersama dewan direksi dan membantu pengambilan keputusan penting.
Dengan berbicara dalam bahasa risiko bisnis (bukan cuma soal teknis), CISO bisa:
- Menjelaskan dampak serangan siber terhadap produksi dan keuntungan,
- Minta anggaran keamanan yang memadai,
- dan ikut menentukan arah kebijakan perusahaan.
Keamanan siber sekarang bagian dari strategi bisnis, bukan tambahan belaka.
2. Mendorong Kerja Sama Antar Tim
Serangan siber saat ini bisa menyasar sistem IT dan operasional sekaligus. Karena itu, tim-tim di dalam perusahaan tidak boleh lagi bekerja sendiri-sendiri.
CISO bisa menjadi jembatan antara:
- Tim IT,
- Tim operasional,
- dan tim keamanan fisik.
Dengan kerja sama yang baik, perusahaan bisa lebih cepat merespons serangan dan pulih dari krisis.
3. Mengadopsi Teknologi Baru Secara Aman
Banyak perusahaan ENRC mulai menggunakan teknologi seperti:
- AI untuk memprediksi kerusakan mesin,
- Smart grid untuk distribusi energi,
- Blockchain untuk pelacakan rantai pasok,
- dan cloud untuk menyimpan data.
Tugas CISO adalah memastikan semua teknologi itu aman digunakan. Artinya, risiko harus dianalisis sejak awal, dan keamanan harus jadi bagian dari proses, bukan dipikirkan belakangan.
Baca juga : 7 Keterampilan yang Wajib Dimiliki Seorang Chief Information Security Officer
Contoh Nyata: Persiapan Hadapi Gangguan Besar IT
Sebuah perusahaan energi ingin siap jika terjadi hal buruk, seperti semua sistem IT mereka tiba-tiba berhenti bekerja karena serangan siber.
Mereka minta bantuan KPMG untuk membuat rencana pemulihan, yaitu langkah-langkah yang harus dilakukan supaya sistem bisa kembali berjalan cepat.
KPMG juga membantu perusahaan ini mengecek ulang aplikasi dan sistem mana yang paling penting untuk bisnis, supaya fokus memulihkan yang benar-benar krusial dulu.
Hasilnya, perusahaan bisa:
- Mempercepat waktu pemulihan saat terjadi gangguan.
- Mengetahui prioritas sistem yang harus diperbaiki duluan.
- Lebih siap menghadapi masalah besar di masa depan.
5 Fokus Utama Profesional ENRC agar Tangguh Hadapi Ancaman Siber
1. Perjelas Tata Kelola Keamanan Siber
Agar semua orang bekerja selaras, penting untuk mendefinisikan peran, tanggung jawab, dan batasan kerja tiap tim secara tertulis dan tegas. Tidak boleh ada area abu-abu. Dengan struktur yang jelas, respon terhadap insiden bisa lebih cepat dan tepat, tanpa tumpang tindih atau saling lempar tanggung jawab.
2. Gabungkan IT, OT, dan Keamanan Fisik
Ancaman sekarang tidak hanya datang dari dunia maya (IT), tapi juga bisa menyerang sistem operasional (OT) atau bahkan fisik seperti akses ke gedung. Profesional ENRC perlu menyatukan semua sistem ini dalam satu strategi keamanan. Dengan begitu, ancaman bisa dipantau dari semua sisi dan direspon secara terpadu.
3. Anggap Keamanan sebagai Risiko Bisnis
Keamanan bukan lagi masalah teknis belaka. Ia harus diposisikan sebagai bagian dari strategi bisnis utama. CISO dan tim keamanan harus mampu menjelaskan dampak risiko siber dalam bahasa bisnis, misalnya, potensi kerugian operasional, reputasi, atau keuangan agar mendapat dukungan dari manajemen puncak.
4. Perkuat Strategi Business Continuity dan Disaster Recovery (BCDR)
Gangguan bisa datang kapan saja mulai dari serangan siber, bencana alam, hingga kegagalan sistem. Maka, perusahaan harus punya rencana kelangsungan bisnis dan pemulihan bencana yang kuat. Tidak cukup hanya punya dokumen; rencana ini perlu diuji secara rutin dengan simulasi realistis agar kesiapan tim benar-benar terasah.
5. Tinjau dan Perkuat Polis Asuransi Siber
Serangan siber bisa berdampak besar secara finansial. Karena itu, pastikan polis asuransi perusahaan mencakup risiko yang relevan, termasuk kerugian akibat gangguan dari pihak ketiga. Evaluasi secara berkala agar sesuai dengan perubahan teknologi dan lanskap ancaman yang terus berkembang.
Baca juga : Prediksi Keamanan Siber 2025: Teknologi dan Ancaman yang Harus Diwaspadai
Cara Tingkatkan Skill Tim Keamanan Siber (Cyber Security)
Menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks, perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan teknologi—kapasitas dan kesiapan tim juga harus ditingkatkan. Pelatihan keamanan siber yang mendalam kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Salah satu program yang bisa dijadikan rujukan adalah Cyber Security Advanced dari ITGID. Pelatihan ini dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan teknis tim dalam:
- Mendeteksi ancaman sejak dini
- Merespons insiden siber secara cepat dan efektif
- Melindungi sistem industri, termasuk OT dan infrastruktur penting
Dengan pembekalan yang tepat, tim keamanan bisa lebih siap menghadapi berbagai skenario serangan nyata dan menjaga operasional bisnis tetap berjalan stabil.

Kesimpulan
Keamanan siber di sektor ENRC (Energy, Natural Resources, and Chemicals) pada tahun 2025 bukan lagi sekadar urusan teknologi. Ini tentang membangun budaya ketahanan digital di seluruh organisasi. CISO kini harus berpikir layaknya pemimpin bisnis bukan hanya menjaga sistem IT, tapi juga memahami risiko operasional, berkomunikasi dengan dewan direksi, dan mendorong kerja sama antar tim.
Di tengah konvergensi IT dan OT, ancaman geopolitik, serta regulasi yang makin kompleks, CISO punya peluang besar untuk menjadi agen perubahan. Dengan strategi yang tepat, keamanan siber justru bisa menjadi kekuatan pendorong (enabler) bagi pertumbuhan bisnis, bukan penghambatnya.
FAQ – Pertanyaan Umum
1. Mengapa peran CISO makin penting di sektor energi dan sumber daya alam?
Karena sektor ini mengelola infrastruktur vital seperti listrik, air, gas, dan sumber daya alam lainnya. Jika terjadi serangan siber, dampaknya bukan hanya pada sistem IT, tapi juga bisa menghentikan operasional utama dan mengganggu layanan ke masyarakat. Oleh karena itu, CISO harus memastikan keamanan tidak hanya di dunia digital, tapi juga di lapangan.
2. Apa tantangan utama dalam konvergensi IT dan OT?
IT dan OT dulunya berjalan terpisah. Ketika keduanya digabung, sering kali terjadi perbedaan cara kerja, bahasa teknis, dan fokus prioritas. Tim IT lebih fokus pada data dan sistem, sementara tim OT lebih peduli pada kelancaran mesin dan proses produksi. Jika tidak ada pemahaman bersama, bisa muncul celah keamanan yang membahayakan operasional.
3. Bagaimana CISO dapat mendapatkan dukungan dari level eksekutif?
Caranya adalah dengan menyampaikan risiko keamanan dalam bahasa bisnis. Bukan sekadar bicara soal serangan atau kerentanan teknis, tapi menjelaskan bagaimana hal itu bisa memengaruhi pendapatan, kepercayaan pelanggan, atau kelangsungan bisnis. Ketika CISO mampu menunjukkan nilai strategis dari keamanan, maka dewan direksi akan lebih mudah memberikan dukungan, termasuk anggaran.
4. Apa yang dimaksud dengan ‘island mode operation’?
‘Island mode’ berarti perusahaan harus memutus total koneksi dari jaringan luar atau internet demi menyelamatkan sistem penting. Ini seperti mengisolasi sistem agar serangan tidak menyebar lebih jauh. Meskipun ekstrem, langkah ini kadang perlu diambil untuk melindungi aset paling krusial saat terjadi serangan besar-besaran.
5. Apakah pelatihan keamanan masih dibutuhkan di era AI dan otomatisasi?
Justru semakin penting. AI, IoT, dan otomatisasi membuka banyak pintu baru untuk efisiensi, tapi juga memperluas permukaan serangan. Tanpa pelatihan yang tepat, tim mungkin tidak siap menghadapi ancaman baru yang muncul. Pelatihan cyber security yang mendalam membantu tim mendeteksi, merespons, dan melindungi sistem dengan lebih cepat dan akurat.