10 Negara dengan Hacker Paling Berbahaya di Dunia, China Kuasai 41 Persen Serangan Siber Global

Ilustrasi peta dunia dengan sorotan negara-negara asal hacker paling berbahaya.

Perkembangan dunia digital membawa kemajuan besar sekaligus ancaman serius. Meski berbagai situs web telah dilengkapi sistem keamanan canggih, kenyataannya serangan siber masih terus meningkat. Para hacker berbahaya di dunia memanfaatkan celah keamanan untuk mencuri data, meretas sistem, hingga melumpuhkan layanan publik.

Menurut data Craw Security yang dilansir LinkedIn, berikut daftar 10 negara dengan hacker paling berbahaya di dunia beserta proporsi serangan siber yang mereka lakukan.

1. China – 41 Persen Serangan Siber Global

China menempati posisi teratas dengan kontribusi sekitar 41% serangan siber dunia. Banyak kelompok peretas di negara ini diduga memiliki keterkaitan dengan militer. Berbagai insiden menunjukkan bahwa serangan mereka menyasar sistem penting, mulai dari layanan publik hingga perusahaan teknologi global.

2. Amerika Serikat – 10 Persen

Sekitar 10% serangan siber dunia ditelusuri berasal dari Amerika Serikat. AS dikenal memiliki kemampuan teknologi tinggi, terbukti dengan serangan Stuxnet yang pernah melumpuhkan fasilitas nuklir Iran. Selain itu, kasus Trojan di fasilitas kritis menunjukkan tingkat kecanggihan operasi siber yang dilakukan dari wilayah ini.

3. Turki – 4,7 Persen

Turki mengalami lonjakan aktivitas peretasan dalam satu dekade terakhir. Sekitar 4,7% insiden peretasan dunia terkait dengan negara ini. Pertumbuhan teknologi yang cepat disebut sebagai pemicu meningkatnya operasi kelompok hacker Turki.

4. Rusia – 4,7 Persen

Rusia terkenal dengan sejumlah operasi siber berprofil tinggi, termasuk dugaan peretasan terhadap pemilu AS dan serangan ke perusahaan teknologi besar seperti Google, Apple, hingga Facebook. Data menunjukkan sekitar 4,7% serangan siber global berasal dari Rusia.

5. Taiwan – 3,7 Persen

Meski negara pulau kecil, Taiwan menyumbang sekitar 3,7% serangan siber global. Banyak kelompok hacker di Taiwan dikenal melakukan operasi secara terorganisir, menyasar individu maupun perusahaan internasional.

6. Brasil – 3,3 Persen

Brasil menjadi sorotan sejak Piala Dunia 2014 dan Olimpiade Rio 2016. Sekitar 3,3% serangan siber global berasal dari negara ini, banyak di antaranya menargetkan sistem pembayaran dan transaksi online di kawasan Amerika Selatan.

7. Rumania – 3,3 Persen

Wilayah Ramnicu Valcea di Rumania dikenal sebagai “kota hacker.” Negara ini menyumbang sekitar 3,3% insiden peretasan global. Banyak kelompok hacker Rumania terlibat dalam serangan terhadap sektor finansial dan e-commerce.

8. India – 2,3 Persen

Dengan pertumbuhan pengguna internet yang masif, India menyumbang sekitar 2,3% serangan siber global. Kurangnya kesadaran keamanan digital di kalangan masyarakat menjadi salah satu penyebab tingginya kasus.

9. Italia – 1,6 Persen

Italia menyumbang sekitar 1,6% kejahatan siber dunia. Beberapa hacker terkenal dari Italia, seperti Donato Ferrante Aureima dan Luigi Auriemma, sempat mengguncang keamanan situs resmi internasional.

10. Hongaria – 1,4 Persen

Hongaria tercatat menyumbang 1,4% serangan siber global. Meski persentasenya relatif kecil, angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring lemahnya upaya pencegahan pemerintah setempat.

Baca juga : 11 Hacker Indonesia Paling Berbahaya: Meretas IBM, NASA, hingga Google

Daftar Negara dengan Pengguna Internet Terbanyak di Dunia

Tingginya jumlah pengguna internet turut memengaruhi kerentanan terhadap serangan siber. Menurut Exploding Topics (5/6/2025), berikut 5 negara dengan pengguna internet terbanyak:

  1. China – 1,05 miliar pengguna (74,36% populasi)
  2. India – 692 juta (49,15% populasi)
  3. Amerika Serikat – 311,3 juta (93,79% populasi)
  4. Indonesia – 212,9 juta (77,76% populasi)
  5. Brasil – 181,8 juta (84,83% populasi)

Tingginya penetrasi internet di negara-negara tersebut mencerminkan kemajuan akses digital, sekaligus meningkatnya risiko paparan kejahatan siber lintas negara.

Baca juga : Target Hacker 2025 di Sektor Energi dan SDA, Begini Cara Keamanan Siber Menangkalnya

Bagaimana Cara Mitigasi dari Serangan Siber?

Di tengah meningkatnya ancaman digital, Cyber Security bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak bagi setiap individu dan organisasi. Melalui Cyber Security Training, Anda akan mempelajari prinsip-prinsip dasar hingga praktik terbaik untuk melindungi data, sistem, dan jaringan dari serangan siber yang semakin canggih.

Manfaat utama dari pelatihan ini adalah kemampuan untuk mengidentifikasi risiko, mencegah potensi kebocoran, serta merespons ancaman dengan strategi yang tepat. Keterampilan ini tidak hanya membuat Anda lebih percaya diri dalam menjaga keamanan digital, tetapi juga meningkatkan nilai profesional Anda di dunia kerja yang semakin menuntut kompetensi cyber security.

Bagi karir Anda, mengikuti pelatihan ini membuka pintu peluang di berbagai industri yang kini menempatkan keamanan informasi sebagai prioritas utama. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang relevan, Anda dapat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem digital yang aman dan berkelanjutan.

Dengan Cyber Security Training, Anda tidak hanya belajar cara melawan serangan siber, tetapi juga membangun masa depan karir yang lebih kuat, relevan, dan penuh peluang. Saatnya jadikan keamanan digital sebagai keunggulan Anda!

FAQ

1. Negara mana yang paling banyak menyumbang serangan siber dunia?
China, dengan sekitar 41% serangan global.

2. Apa hubungan jumlah pengguna internet dengan tingkat serangan siber?
Semakin besar pengguna internet, semakin tinggi peluang eksploitasi celah keamanan.

3. Apakah semua hacker di daftar ini beroperasi secara ilegal?
Tidak semua. Ada juga hacker etis (ethical hacker) yang membantu memperkuat sistem keamanan.

4. Bagaimana cara melindungi diri dari hacker berbahaya?
Gunakan autentikasi ganda, perbarui sistem secara rutin, dan hindari mengklik tautan mencurigakan.

5. Mengapa Indonesia belum masuk 10 besar negara hacker berbahaya?
Meski pengguna internetnya besar, tingkat serangan yang berasal dari Indonesia relatif lebih rendah dibanding negara-negara di daftar ini.

Rate this post

Artikel Terbaru

Jangan Asal Investasi! Panduan Memilih Sertifikasi ITIL, COBIT, vs TOGAF Agar Modalmu Tak Sia-Sia 

Perusahaan Terjebak Shadow AI? Selamatkan Bisnis Anda dengan Integrasi COBIT, TOGAF, dan ITIL

ITIL x Agile: Menjinakkan AI Tanpa Membunuh Inovasi