Aplikasi Berbasis Teknologi Guna Mencegah Penyebaran Covid-19

Sejak penyebarannya dari kota Wuhan, China, virus Corona (COVID-19) telah mewabah ke banyak negara, seperti Korea Selatan, Iran, hingga ke Amerika Serikat , Italia, hingga Indonesia.

Di China, virus Corona menyebabkan 3.136 orang meninggal dengan jumlah kasusnya mencapai 80.757.  Sedangkan di Indonesia, jumlah pasien yang positif virus mematikan ini per hari ini 31 Maret 2020 sebanyak 1.528 orang. Jumlah ini masih memiliki kemungkinan untuk terus bertambah. Dengan penularan yang sangat cepat, pemerintah Indonesia sudah memberikan ultimatum untuk waspada dan melakukan tindakan pencegahan virus.

Pemerintah di seluruh dunia melakukan berbagai upaya untuk menekan penyebaran virus corona (Covid-19). Mulai dari kebijakan physical distancing hingga penggunaan teknologi dilibatkan untuk mengurangi penyebaran virus corona.

Pemerintah Indonesia akan membuat aplikasi berbasis sistem teknologi informasi yang menjelaskan tentang perkembangan kasus corona atau COVID-19. Teknologi ini nantinya akan digunakan untuk mengetahui dan memprediksi siapa saja yang berkontak dengan pasien positif corona. Dengan begitu, penyebaran virus tersebut bisa dilacak dengan baik.

Sebelumnya, China telah menggunakan aplikasi dimana warga China menggunakan program peta dan penelusur perjalanan untuk menghindari daerah yang terkena infeksi virus korona. Aplikasi ini bernama QuantUrban dan program WeChat, YiKuang atau “Epidemic Situation“.

Aplikasi tersebut mengadopsi informasi resmi di lingkungan tempat terjadinya kasus virus korona. Aplikasi tersebut juga melakukan pemetaan secara geografis, sehingga pengguna dapat mengukur seberapa dekat mereka dengan lokasi yang terinfeksi virus korona.

Beranjak ke negara tetangga, Pemerintah Singapura menggunakan aplikasi berbasis ponsel dalam melacak sebaran virus corona. Aplikasi tersebut bernama TraceTogether, yang dikembangkan oleh Badan Teknologi Pemerintah Singapura (GovTech) dan Kementerian Kesehatan.

Aplikasi TraceTogether ini bekerja dengan menukar sinyal Bluetooth jarak dekat untuk mendeteksi pengguna lain yang berada dalam jarak sekitar 2 meter. Data pelacakan akan disimpan di penyimpanan lokal ponsel dan dilindungi enkripsinya. Aplikasi ini tidak akan meminta informasi lainnya, seperti lokasi pengguna.

Pelacak kontak secara resmi akan memberikan kode yang dapat dicocokkan pengguna dengan kode verifikasi yang sesuai pada aplikasi mereka. Setelah dikonfirmasi, pengguna akan diberikan PIN yang memungkinkan pengiriman data saat dimasukkan. Pelacak kontak juga tidak akan meminta rincian keuangan pribadi atau meminta transfer uang melalui telepon.

Ketika dihubungi oleh pelacak kontak, hal itu adalah saat pengguna akan diminta untuk membagikan data mereka. Jika mereka menolak, mereka dapat dituntut berdasarkan Undang-Undang Penyakit Menular. Meskipun penggunaan aplikasi ini tidak wajib, mereka yang menggunakannya harus mengaktifkan pengaturan Bluetooth di ponsel mereka agar penelusuran dapat dilakukan.

Di situs webnya, pengembang TraceTogether, menyebutkan, dengan berjalannya aplikasi sepanjang waktu tidak akan menguras baterai ponsel secara signifikan. Satu-satunya data yang dikumpulkan oleh Pemerintah Singapura melalui aplikasi ini adalah nomor ponsel pengguna.

Dengan cara ini, pemerintah bisa menghubungi pengguna dengan cepat jika mereka berada di dekat kasus yang terinfeksi. Aplikasi ini juga tidak mengumpulkan atau menggunakan data lokasi pengguna, tetapi hanya mencatat siapa yang dekat dengan mereka.

Rekan-rekan ITG.ID (member of Proxsis) tetap stay safe ya! Kami siap membantu kamu. Jadi, jangan ragu untuk berkonsultasi bersama pakar-pakar kami.

Sumber : https://voi.id/

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

Open chat