China Tampik Lakukan Sensor Ketat Internet

Lu Wei, kepala Cyberspace Administration China baru-baru ini membantah bahwa selama ini negerinya terlalu ketat soal urusan sensor internet. Dalam komentarnya, Wei menegaskan bahwa negerinya tidak melakukan sensor, namun mengelola isi internet.

“Adalah penggunaan kata yang salah bila kalian menyebutkan ‘sensor isi’. Tapi, tidak adanya sensor bukan berarti tidak ada pengelolaan. Pemerintah China telah belajar untuk mengelola internet dari negara-negara barat yang sudah maju yang sebelumnya kurang kami pelajari,” ungkap Wei ketika menanggapi kritik terkait sensor China yang terkenal ketat.

Pria berusia 55 tahun yang dijuluki New York Times sebagai ‘penjaga pintu gerbang internet’ China ini juga menambahkan bahwa negerinya memang ‘pilih-pilih teman’ terkait soal internet ini.

“Saya harus memilih siapa saja (negara-negara) yang datang sebagai teman,” ungkapnya.

Pernyataan ini diungkapkan Wei dalam jumpa pers untuk menyambut World Internet Conference yang akan dilaksanakan di China pada 16 Desember mendatang. Dikabarkan, konferensi yang disponsori oleh negeri tirai bambu ini akan kedatangan sekitar 2.000 peserta dari 120 negara.

Wei memang tidak main-main soal tanggung jawabnya dalam menjaga keamanan internet di China. Mengutip dari HKFP, namanya bahkan termasuk ke dalam daftar 100 orang yang paling berpengaruh tahun ini versi Time Magazine karena kuasa yang dimilikinya dalam mengatur apa saja yang boleh diakses oleh 650 juta netizen di China yang merupakan ‘rumah’ bagi netizen terbanyak di dunia.

China memang terkenal sebagai negara yang cukup tertutup urusan internet. Sistem yang disebut ‘Tembok Besar Firewall China’ ini diketahui telah mencegah warga China untuk mendapatkan akses internet penuh.

Pemerintah secara agresif memang diketahui melakukan pemblokiran situs-situs yang dianggap mengancam stabilitas pemerintahan partai komunis, termasuk situs-situs asal barat seperti Facebook dan Google.

Kebebasan internet di China terus menurun di bawah pemerintahan presiden Xi Jinping sejak tahun 2013. Menurut data Freedom House, pada tahun 2015 China bahkan termasuk ke dalam daftar 65 negara terakhir dengan peringkat terendah terkait masalah kebebasan internet.

Meskipun terkesan begitu tertutup, negeri ini tidak takut bahwa pasar online-nya tidak akan mengalami perkembangan dan kalah saing di era ekonomi digital ini. China akan tetap konsisten dengan ketegasannya soal kebebasan internet.

“Kami tidak akan menerima mereka yang mengambil uang China, mengambil pasar China, dan kemudian memfitnah China,” sebutnya.

Wei juga membantah bahwa internet akan menjadi ‘intranet’ di negerinya. Wei mengaku pintu China akan selalu terbuka terhadap perusahaan internet dunia, selama mereka tidak mengganggu kepentingan nasional dan konsumen China.

Mengutip dari Reuters, Wei menegaskan, “Kebebasan adalah tujuan kami, ketertiban adalah cara kami.”

Sumber berita: cnnindonesia.com
Sumber foto: marketingtochina.com

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

×

Powered by WhatsApp Chat

× Apa yang bisa kami bantu?