Kerugian Serangan Cyber Capai 1,46 Juta PoundS

Jumlah kerugian finansial akibat serangan siber semakin meningkat dari waktu ke waktu. Seperti yang dilansir oleh The Telegraph, kerugian finansial akibat serangan cyber mencapai 1,46 juta pound atau setara dengan 292 miliar rupiah per tahun. Berdasarkan survey pemerintah Inggris dan PwC, jumlah tersebut naik sebanyak 600.000 paun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut menjadi indikasi bahwa serangan siber semakin canggih dan masif.

Hasil survey sendiri menunjukkan bahwa tidak hanya perusahaan kelas atas yang diserang. Bisnis skala kecil dan menengah pun tidak luput dari serangan tersebut. Mereka mengalami kerugian sebanyak 310.000 pound yang mana angka tersebut naik dibandingkan tahun lalu yang berjumlah sekitar 115.000 pound. Jumlah tersebut diperoleh dari berbagai macam kerugian. Seperti kehilangan rahasia dagang, hak cipta, denda pinalti maupun kerugian lainnya.

Fakta unik lainnya dari survey tersebut adalah hanya satu dari sepuluh perusahaan yang mampu bertahan dari canggihnya serangan cyber itu. Firma PwC pun mensurvey bahwa sekitar 90 persen perusahaan skala besar pasti sering mengalami serangan tersebut. Untuk perusahaan skala kecil dan menengah jumlahnya sekitar 74 persen, naik 14 persen dibandingkan tahun lalu.

Menteri Ekonomi Digital, Ed Vaizey mengatakan bahwa negara Ratu Elizabeth itu sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan. “Wajar saja jika Inggris mendapat serangan siber semacam ini,” tandas Vaizey. Sumber utama mengapa perusahaan di Inggris menjadi sasaran empuk serangan siber tidak terlepas dari kesalahan manusia. “Human error mendominasi urutan tertinggi dari sumber serangan siber,” ulas survey tersebut.

Direktur Keamanan Siber PwC Andrew Miller mengatakan bahwa serangan siber semakin canggih dari hari ke hari. “Keterlibatan pihak dalam yang ceroboh turut mendorong meningkatnya serangan siber di masa kini,” papar Miller. Sekitar 60 persen perusahaan skala besar mengaku mereka sering diserang oleh pihak di luar perusahaannya.

Serangan distributed-denial-of-service (DDoS) pun meningkat. Angka persentasenya mencapai 38 persen yang mana tahun lalu hanya mencapai 30 persen. Lembaga agensi yang ikut terlibat dalam praktik surveillance, GCHQ, memperingatkan masyarakatnya untuk waspada terhadap serangan cyber yang semakin canggih dan berbahaya bagi perekonomian Inggris.

Sumber: ciso.co.id

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

×

Powered by WhatsApp Chat

× Apa yang bisa kami bantu?