Mengulas Skandal Panama Papers dari Sisi Teknologi

Skandal Panama Papers tak cuma bikin heboh dunia, tapi juga Indonesia. Dari sisi teknologi, hal ini juga menarik untuk diulas karena adanya pembobolan data dalam jumlah besar.

Jika dibandingkan dengan bobolnya data sebesar 1,7 gigabyte dalam kasus Wikileaks yang pernah terkuak pada 2010 lalu, Panama Papers memiliki ukuran dokumen 100 kali lebih besar.

Erik Meijer, President Director & CEO TelkomTelstra mengatakan bahwa besar data yang berhasil dibobol sebesar 2,6 terabyte dan menyimpan sekitar 11,5 juta file.

Dokumen itu diklaim merupakan hasil investigasi 370 wartawan dari 100 organisasi media berbeda yang tersebar di seluruh dunia yang tergabung dalam Internasional Consorsium of Investigative Journalists (ICIJ).

Di balik bocornya dokumen tersebut, kabarnya ada banyak faktor dari teknologi informasi sehingga data tersebut bisa sampai bocor ke publik.

“Kita kan belum bisa tahu sebenarnya apa yang terjadi. Tetapi ada indikasi jika kita lihat screenshot dari postingan Twitter oleh Mossack Fonseca yang mengatakan: ‘unfortunately we have been subject to unauthorized breach on our server’,” kata Erik di Jakarta, Senin (11/4/2016).

Kemudian kata dia, perusahaan tersebut juga berjanji bahwa mereka telah mengambil ‘all necessary measures to prevent this from happening again’ dan juga mengambil ”additional measures to further strengthen [its] systems’ serta mengatakan bahwa mereka sedang ‘in the process of an in-depth investigation with experts’.

“Ini menggambarkan bahwa mereka telah mengalami security breach di server mereka,” papar Erik lebih lanjut.

Sementara diketahui, salah satu kunci bocornya data Panama Papers berkat software dari perusahaan pengembang perangkat lunak, Nuix. Software yang diproduksi oleh sekelompok kecil pengembang Australia itu membantu para jurnalis membongkar data tersebut.

Solusi milik Nuix mampu menyaring jutaan bocoran dokumen dari firma hukum atau perusahaan offshore asal Panama, Mossack Fonseca. Firma ini yang dikenal yang memiliki dokumen dan data Panama Papers.

Berkat Nuix, ICIJ mampu memindai jutaan dokumen, termasuk dokumen yang sudah berusia beberapa dekade, mencari teks dan membantu mencari referensi silang klien Mossack Fonseca atas dokumen tersebut.

“Bicara soal Nuix, itu kan dibobol dulu baru pakai software itu untuk dibaca datanya. Nah, bisa dibobol itu, ini aspek keamanan di teknologi informasi,” kata Erik lebih lanjut.

Diyakininya, pembobol berhasil menerobos sistem keamanan karena secara sederhana, jika sistem keamanan berjalan baik, dengan paket data Panama Papers yang sebesar 2.6 terabyte, jika itu dicuri dengan berbagai sistem pengamanan yang aktif, pasti akan ketahuan dan bisa dihentikan di awal atau pada saat baru beberapa megabyte diambil.

“Ini berarti sistem keamanan di perusahaan yang dibobol tidak aman,” sesalnya.

Sumber berita: inet.detik.com
Sumber foto: leebropos.com

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

×

Powered by WhatsApp Chat

× Apa yang bisa kami bantu?