PT KAI Mulai Serius Terapkan Internet of Things

Badan usaha milik negara (BUMN) PT Kereta Api Indonesia (KAI), menyatakan telah mulai serius mengimplementasikan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) yang ditandai launching dashboard untuk direksi pada awal Oktober 2015.

Vice President Enterprise Resource Planning KAI, Arief Setiawan mengatakan, “IoT di KAI contohnya adalah penggunaan dashboard untuk direksi dan baru dilaunching pada awal Oktober.” Apalagi menurutnya dengan hadirnya IoT, manajemen optimistis dapat mencapai pendapatan Rp 15,7 triliun pada tahun ini.

Pada tahun ini implementasikan IoT telah dilakukan pada beberapa anak perusahaan KAI, yakni PT KAI Commuter Jabodetabek melalui layanan ERP (Enterprise Resource Planning) dari SAP mulai Agustus 2015. Kemudian pada September 2015 juga mulai diterapkan pada PT Kereta Api Logistik, yang bergerak di angkutan barang. Sedangkan pada tahun 2016 mendatang ERP implementasi akan dilakukan pada PT Reska Multi Usaha dan PT Railink.

Arief mengungkapkan, hadirnya teknologi IoT sangat berdampak pada pertumbuhan pendapatan perusahaan secara keseluruhan. Dia menerangkan, sebenarnya KAI telah menggunakan IoT sejak 2009 hingga 2014 dan terjadi pertumbuhan pendapatan pada KAI sebanyak empat kali lipat. “Kami gunakan ERP dari SAP sejak Januari 2014. Pada 2013, pendapatan kami mencapai Rp 8 triliun, dan di akhir 2014 telah meningkat menjadi Rp 11 triliun. Memang tidak semua dari ERP, tapi paling tidak tetap memberikan kontribusi besar,” jelas Arief.

Melalui ERP, dia mengharapkan, KAI dapat memberikan pelayanan yang lebih baik untuk pelanggan dengan integrasi dari keseluruhan proses bisnis yang ada. Baik angkutan barang, angkutan penumpang, penyewaan aset, penyewaan rumah dan lahan.

Perkembangan bisnis layanan IoT sendiri di Indonesia terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sektor perangkat rumah tangga, perkantoran, korporasi, dan transportasi diklaim menjadi sektor yang paling banyak menerapkan teknologi tersebut. Berdasarkan data IDC (International Data Corporation) di Asia Pasifik dalam kurun waktu 2015 hingga 2020 akan terjadi peningkatan perangkat IoT menjadi 8,6 miliar perangkat. Saat ini sebesar 3,1 miliar perangkat. Sedangkan dari sisi pertumbuhan pasar, diperkirakan dari US$ 250 miliar pada 2015, menjadi US$ 583 miliar pada 2020.

Sumber: ciso.co.id

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

×

Powered by WhatsApp Chat

× Apa yang bisa kami bantu?