Strategi Microsoft Azure Menangkan Pasar Cloud Computing

Gartner Magic Quadrant 2015 merilis tentang persaingan pasar cloud computing yang didominasi oleh Microsoft Azure dan Amazon Web Service (AWS). Dalam publikasinya tersebut, Gartner membeberkan tentang kelemahan dan keunggulan baik dari Azure maupun AWS. Berdasarkan data yang dirilis oleh Gartner tersebut, AWS menjadi pemuncak dan mendominasi pasar cloud computing. Disusul oleh Azure di peringkat kedua dan meninggalkan kompetitor lainnya di belakang mereka.

Gartner mengatakan bahwa AWS cukup wajar menjadi pemuncak karena telah lebih dulu terjun di bisnis ini sejak tahun 2006 yang lalu. Microsoft dengan teknologi Azure-nya datang terlambat dan baru masuk persaingan pasarcloud computing pada tahun 2010 yang lalu. Hal tersebut diamini Anthonius Henricus, Developer Experience and Evangelism Director dari Microsot Indonesia yang mengakui bahwa Microsoft memang datang terlambat di tengah pasar cloud computing. “Namun bukan berarti keterlambatan itu menjadi penghalang bagi Microsoft untuk maju,” kata pria yang akrab disapa Anton itu.

Menurutnya, Microsoft sendiri telah mengembangkan berbagai macam strategi agar mampu bersaing di pasarcloud computing. “Strategi yang dikembangkan oleh Microsoft tidak hanya soal teknis semata tetapi juga fitur fungsinya. Beberapa kali dalam keynote speech, Microsoft Azure adalah satu-satunya platform cloud computingyang benar-benar true hybrid solution,” ujar Anton dalam konferensi pers di ajang Microsoft TechDays 2015 di Balai Kartini, Kuningan, Jakarta.

Anton mengatakan bahwa keunggulan fitur tersebut menjadi salah satu strategi Microsoft agar mampu bersaing dengan kompetitor lainnya. “Kami telah memiliki pengalaman di Windows Server. Keunggulan dan pengalaman kami di on-premise kami terapkan juga di Azure. Sehingga fitur hyper-V yang ada di on-premise, dapat dirasakan juga di Microsoft Azure,” kata Anton. Strategi lainnya yang dikembangkan oleh Microsoft adalah merangkul banyak perusahaan start-up companies dengan inkubatornya.

“Kami memberikan akses Azure pada start-up companies dengan biaya 750 dolar AS sebulan agar dapat mengembangkan aplikasi kreatif mereka di atas platform cloud computing milik Microsoft,” kata Anton. Selain itu, Anton pun menegaskan bahwa Microsoft pun merangkul kalangan pemerintah untuk mendorong ekonomi kreatif dan akademisi di kampus untuk mendapatkan akses di teknologi terbaru mereka.

Salah satu kendala dalam mengadopsi cloud computing adalah faktor keamanannya. Anton mengungkapkan bahwa Microsoft telah aware dengan masalah keamanan. “Microsoft telah memiliki visi keamanan jauh dari standar keamanan ISO 27001. Kita telah mengadopsi berbagai macam standar keamanan pada data centerMicrosoft termasuk 27018 yang berkenaan dengan privasi,” kata Anton. “Microsoft sendiri adalah perusahaan teknologi pertama yang mendapatkan sertifikasi keamanan sesuai dengan standar keamanan Uni Eropa. Kita sangat aware dalam hal keamanan,” tegasnya.

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

×

Powered by WhatsApp Chat

× Apa yang bisa kami bantu?