Stress Testing Si Penentu Ketahanan Sistem

Keandalan dan kestabilan sebuah sistem dapat diukur setelah melakukan proses stress testing. Hal ini karena sangat menentukan sistem ketahanan dan penanganan kesalahan dalam kondisi beban yang sangat berat. Bahkan, sistem bekerja di bawah kondisi ekstrem tersebut, juga akan dievaluasi melalui serangkaian tes di luar titik operasi normal. Stress testing juga  memastikan sistem tidak akan rusak (crash) di bawah situasi krisis.

Stress testing juga dikenal sebagai pengujian daya tahan untuk menentukan batas, di mana sistem atau perangkat lunak atau perangkat keras rusak. Hal ini juga untuk memastikan  sistem berjalan efektif meskipun dalam kondisi ekstrem. Sebenarnya, alasan diperlukan stress testing biasanya ketika waktu festival atau promo diskon yang besar. Dalam hal ini, mayoritas situs belanja online dapat menyaksikan lonjakan lalu lintas, ketika mengumumkan penjualan.

Oleh karena itu, stress testing sangat berperan untuk mengakomodasi lonjakan trafik yang tidak normal. Namun, ketika proses pengakomodasian trafik gagal, akan  mengakibatkan hilangnya pendapatan dan reputasi. Kegagalan sistem dalam kondisi ekstrem dapat mengakibatkan hilangnya pendapatan yang sangat besar, sehingga kita dituntut siap dalam kondisi ekstrem dengan mengeksekusi stress testing. Berikut adalah lima jenis pengujiannya, yakni;

1). Pengujian Stress Terdistribusi

Dalam sistem server klien terdistribusi, pengujian dilakukan di semua klien dari server. Peran server stress adalah untuk mendistribusikan serangkaian tes stress untuk semua klien  dan melacak statusnya.

Setelah itu, server menambahkan nama klien dan mulai mengirim data untuk pengujian dengan mengirim sinyal atau detak jantung yang terhubung. Jika server tidak menerima sinyal apa pun dari mesin klien, maka perlu diselidiki lebih lanjut untuk melakukan debug.

2). Aplikasi Stress Testing:

Pengujian ini berkonsentrasi untuk menemukan cacat terkait penguncian dan pemblokiran data, masalah jaringan, dan kemacetan kinerja dalam aplikasi.

3). Pengujian Stress Transaksional:

Hal ini untuk menguji stres pada satu atau lebih transaksi antara dua atau lebih aplikasi. Ini digunakan untuk fine-tuning dan mengoptimalkan sistem.

4). Pengujian Stress Sistemik:

Ini adalah pengujian tegangan terintegrasi yang dapat diuji di beberapa sistem yang berjalan pada server yang sama. Ini digunakan untuk menemukan cacat di mana satu data aplikasi memblokir aplikasi lain.

5). Pengujian Stress Eksperimental:

Ini adalah salah satu jenis pengujian yang digunakan untuk menguji sistem dengan parameter atau kondisi yang tidak biasa terjadi dalam skenario nyata. Ini digunakan untuk menemukan cacat di sekitar skenario yang tidak diharapkan, sebagai berikut :

a). Sejumlah besar pengguna log in pada saat yang bersamaan

b). Jika pemindai virus dimulai di semua mesin secara bersamaan

c). Jika database offline ketika sedang diakses dari situs web

d). Ketika sejumlah besar data dimasukkan ke database secara bersamaan

source: www.sis.binus.ac.id

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

Open chat