Terjadi Peningkatan Aktivitas Cyber yang Berpotensi Peretasan

Para penjahat dunia maya (cyber) tak pernah kehabisan akal untuk menjerat korbannya, termasuk mencuri data-data penting. Terbukti, berdasarkan laporan Ikhtisar Keamanan Tahunan 2015 Trend Micro, data menjadi target utama peretasan.

Berdasarkan laporan bertajuk “Setting the Stage: Landscape Shift Dictate Future Threat Response Strategies“, terjadi peningkatan aktivitas cyber yang berpotensi menjadi sarana munculnya upaya peretasan tingkat tinggi. Data pun menjadi fokus utama dalam kejahatan-kejahatan yang terjadi sepanjang tahun lalu.

2015 disebut sebagai tahun yang sarat akan serangan terhadap data, lantaran tidak ada bulan pada tahun tersebut yang dilaporkan bebas dari penerobosan data yang tergolong besar.

Country Manager Trend Micro, Andreas Ananto Kagawa, mengatakan tren serangan terhadap data bukan hanya sekedar pencurian, tetapi juga jual-beli data. Mereka bahkan memaksa korban membayar uang tebusan untuk mendapatkan data mereka kembali, dengan semakin banyaknya penjahat cyber menggunakan malware Ransomware.

Para penjahat cyber menggunakannya untuk membidik data korban, kemudian “menyandera” dan memaksa korban membayar sejumlah tebusan yang telah ditentukan. Semua industri, kata Andreas, bisa saja menjadi korban Ransomware.

“Bukan hanya industri atau organisasi, individu pun bisa menjadi korban Ransomware. Tren tersebut diprediksi akan berlanjut pada tahun ini,” tutur Andreas di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (23/3/2016).

Seiring maraknya perampokan data, dilihat dari adanya gelombang peningkatan pasokan barang curian di seluruh ekosistem “bawah tanah” yang dikendalikan penjahat cyber. Mereka menjualbelikan data di pasar gelap Deep Web.

“Mereka mencari sumber-sumber data baru untuk dicuri dan gencar menawarkannya di Deep Web. Data-data yang ditawarkan lebih dari sekedar nama dan alamat. Jadi di sana itu (Deep Web) ada supply dan demand yang mempengaruhi harga jual,” jelas Andreas.

Diprediksi serangan terhadap data akan terus berlanjut hingga tahun ini. Karena itu, Andreas menghimbau masyarakat lebih berhati-hati.

Siapa sangka ternyata banyak anak muda yang tertarik menjadi hacker. Salah satu pemicunya adalah menjadi hacker saat ini jauh lebih mudah berkat ketersediaan layanan-layanan pendukung.

Untuk menjadi hacker saat ini tidak lagi harus mahir programming dan berbagai keahlian IT lainnya. Hal ini di antaranya karena sudah banyak layanan yang menyediakan exploit kit guna mempermudah mereka membuat malware.

“Sekarang menjadi hacker jauh lebih mudah daripada dahulu. Sekarang dia bisa berlangganan ke satu layanan, lalu membeli yang namanya exploit kit, dan dari sana mereka bisa membuat malware-malware baru,” ungkap Andreas di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (23/3/2016) kemarin.

Anak-anak muda itu, katanya, tidak hanya sekedar membuat malware dan menyebarkannya. Bahkan mereka sudah bisa menghasilkan uang.

“Pernah di Brasil kita berhasil ketahui dia masih pelajar, tapi sudah bisa menghasilkan uang dari situ,” tuturnya.

Penemuan tersebut dinilai tidak lagi mengejutkan. Terlebih mengingat Brasil berdasarkan laporan Ikhtisar Keamanan 2015 “Setting the Stage: Landscape Shifts Dictate Future Threat Response Strategies“, merupakan salah satu negara dengan eksplorasi cyber “bawah tanah” terbanyak.

Sumber berita: tekno.liputan6.com
Sumber foto: orig09.deviantart.net

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

×

Powered by WhatsApp Chat

× Apa yang bisa kami bantu?