UKM Harus Mulai Pikirkan Keamanan Perangkat Karyawan

Sebagian usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia sudah mulai menunjukkan tanda-tanda adopsi teknologi informasi dan telekomunikasi. Namun, pengoptimalan mobilitas pada bisnis masih terganjal faktor keamanan.

Optimalisasi mobilitas pada UKM di Indonesia paling mudah dilakukan dengan membebaskan pekerja memakai perangkat apa saja untuk bekerja, termasuk perangkat pribadi milik karyawan. Cara ini disebut dengan BYOD, singkatan dari bring your own device.

Perangkat tersebut bisa jadi berupa komputer jinjing alias laptop atau ponsel pintar yang sifatnya mudah di bawa ke mana saja untuk menunjang mobilitas.

Ponsel pintar pun saat ini bisa dipakai untuk bekerja, misalnya sekadar membalas email dari klien. Tak heran penetrasi ponsel pintar di Indonesia terus meningkat, dengan jumlah pengguna yang sudah lebih tinggi daripada ponsel fitur.

Menurut Analis Senior International Data Corporation, Reza Haryo, dengan tren BYOD di kalangan karyawan ini justru menguntungkan bagi pengusaha karena tak harus berinvestasi untuk membeli perangkat baru sebagai fasilitas.

Metode ini, lanjut Reza, lebih mungkin dipilih karena UKM yang bersangkutan masih memprioritaskan investasi pada aspek inti, yakni jual-beli untuk meningkatkan pendapatan. Dengan menggunakan metode BYOD, investasi di bidang telekomunikasi bisa dipangkas.

“Sebenarnya hal yang perlu dikhawatirkan bukan biaya, tapi keamanan,” kata Reza di Jakarta, Kamis (28/7).

Akan tetapi, dia mengingatkan tren BYOD bisa jadi pedang bermata ganda, karena karyawan menggunakan perangkatnya untuk keperluan pribadi sekaligus untuk keperluan bisnis. Pada tahap ini, UKM dipaksa untuk memikirkan keamanan data yang tersimpan di perangkat karyawannya.

“Ketika menggunakan perangkat pribadi orang akan jadi lebih santai berselancar di internet. Sementara di perangkat itu bisa jadi ada file perusahaan yang sifatnya rahasia,” kata Reza.

Untuk mengatasi masalah ini, IDC menyarangkan UKM harus mulai memakai jasa perusahaan yang menawarkan peranti lunak manajemen perangkat untuk mendukung keamanan data.

Internet, kata dia, bisa jadi celah keamanan terbesar untuk file-file tersebut. Jika sembarangan berselancar tanpa alat penunjang keamanan yang baik, perangkat dengan mudah bisa terinfeksi program jahat atau malware.

“Harus ada segregasi yang jelas antara file pribadi dan file perusahaan,” ujarnya.

Sumber berita: cnnindonesia.com
Sumber foto: teamcelebr8.weebly.com

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

Open chat