Vulnerability pada Mobil Pintar dan Penjahat Cyber

Beberapa hari yang lalu, Fiat Chrysler Automotive menarik kembali sekitar 1,4 juta unitnya dari pasaran setelah ditemukan vulnerability di mobil pintarnya yang dapat dimanfaatkan oleh penjahat siber. Dengan berkembangnya Internet of Things (IoT), industri otomotif pun ikut terjun di dalamnya dengan membangun berbagai macam produk mobil pintar. Sayangnya, perkembangan IoT itu menjadi big bang atau benturan besar antara industri itu sendiri dengan penjahat siber.

Tidak hanya Chrysler yang “panik” dengan menarik kembali 1,4 juta unitnya, BMW pun merilis patch untuk menutupi sistem keamanan wireless yang berada di 2,2 juta unit mobil pintarnya. Berdasarkan pengamatan para pakar keamanan yang menemukan kerentanan pada sistem wireless Chrysler, penjahat siber dapat mengakses jaringan komputer perusahaan melalui produk mobil pintar mereka.

Temuan yang jauh mengerikan adalah vulnerability yang terdapat pada mobil Jeep Wrangler. Pakar keamanan yang berusaha menguji keamanan mobil pintar Wrangler mengatakan bahwa mobil tersebut diretas saat sedang berjalan di tengah jalan tol. Dengan memanfaatkan kelemahan pada vulnerability itu, hacker diprediksi dapat mengakses sistem hiburan di dalam mobil dari jarak jauh. Selain itu, hacker pun akan mampu mengambil alih kemudi, gas dan transmisi mobil tersebut.

Beberapa pakar seperti Stuart Poole-Robb dari KCS Group Europe mengatakan bahwa kerentanan yang terdapat dalam mobil pintar itu tidak hanya akan dimanfaatkan oleh penjahat siber yang usil tapi juga grup teroris seperti ISIS. “Kebanyakan mobil pintar tersebut diproduksi oleh AS dan negara-negara Barat. Ketika grup teroris dapat menyusup ke dalam mobil pintar dan merusak sistemnya, hal itu akan berakibat pada terguncangnya perekonomian dunia,” papar Poole-Robb.

Ia pun menjelaskan bahwa semakin wireless sebuah mobil pintar maka kendaraan tersebut akan semakin vulnerable. “Sekarang semakin banyak industri otomotif yang berlomba-lomba membangun mobil pintar tanpa menaruh perhatian lebih pada aspek keamanannya,” tegas Poole-Robb. Walaupun ia sendiri tidak memungkiri bahwa perkembangan itu tidak terlepas dari keinginan konsumen agar mobil mereka bisa bekerja secara onlinedan memungkinkan mereka mengakses email saat berkendara.

“Di AS sendiri, mobil pintar telah menutupi sekitar setengah juta mil. Terlebih lagi, perusahaan seperti Google sangat ambisius untuk membuat mobil pintar. Hal tersebut seakan-akan membuka kotak Pandora,” kata Poole-Robb. Ia mengatakan bahwa tak lama lagi, industri otomotif akan berbenturan dengan penjahat siber.

Sumber: ciso.co.id

Rate this post

Bagikan:

[yikes-mailchimp form=”2″]

× Apa yang bisa kami bantu?