5 Red Flags dalam Cyber Security yang Harus Diwaspadai

Belakangan ini, Indonesia telah mengalami banyak kasus kebocoran data dan penyalahgunaan data yang tidak hanya merugikan perusahaan, tetapi juga masyarakat itu sendiri sebagai pemilik data. Kurangnya kesadaran akan pentingnya mengimplementasikan Cyber Security secara lebih efektif, mengakibatkan hal ini kian terjadi dan menurunkan level keamanan sistem di sekitar kita menjadi lebih dipertanyakan, termasuk kemunculan red flags atau tanda bahaya dalam Cyber Security yang berpotensi merugikan.

Cyber Security merupakan praktik yang sangat bermanfaat untuk mengurangi risiko kebocoran data, dengan fungsinya yang dapat melindungi perangkat, program, dan jaringan, melalui penerapan firewall yang lebih tajam, serta persiapan backup data yang keseluruhan. Akses data juga akan lebih terjaga dengan Cyber Security yang lebih dioptimalkan, karena sistem bisa melakukan multi factor authentication, supaya tidak sembarang orang bisa mengelolanya.

Sudah sepantasnya kita sadari saat ini, apakah sistem dalam perusahaan kita telah menerapkan Cyber Security sudah mumpuni? Bagaimana cara mendeteksi keamanan siber yang sudah dilakukan dalam bisnis agar terjamin penjagaannya? IT Governance Indonesia mengajak Anda untuk waspada terhadap red flags atau tanda bahaya dalam Cyber Security yang mungkin telah terjadi dalam sistem Anda.

5 Red Flags dalam Cyber Security yang Harus Diwaspadai:

  1. Username dan Password yang digunakan oleh banyak pekerja sekaligus.

Kemajuan era digital telah menimbulkan perkembangan teknologi yang begitu infklusif dan secara langsung menuntut kita untuk turut berpartisipasi di dalamnya. Hal ini terlihat dari akses digital seperti pada akun situs web dan aplikasi yang mudah disebarluaskan bagi sesama pegawai kantoran atau rekan. Meski terlihat praktis dan sederhana, hal ini dapat menjadi peluang terjadinya kebocoran data yang berbahaya. Sebagaimana kita tahu, aspek paling rentan dalam dunia informasi tentu berada pada manusia sebagai pemilik dan pengolah data tersebut.

  1. Informasi sensitif atau bersifat rahasia yang dikirim melalui email.

Adakah di antara Anda yang sudah tidak lagi menggunakan surat elektronik atau e-mail? Siapapun tentu masih menggunakannya. Terpaut dalam aktivitas sehari-hari saat bekerja atau pun berinteraksi dengan pihak yang jauh keberadaannya, pengiriman dokumen sensitif atau rahasia melalui e-mail masih sering dilakukan demi menghemat waktu, biaya, dan tenaga. Padahal, berbagai kejahatan siber bisa kita temukan dalam transaksi e-mail, seperti RansomwareOTP Fraud, Identity Theft, dan masih banyak lagi.

  1. Hanya memiliki satu data backup atau tidak mengintegrasikan data backup secara maksimal

Di tengah segala kemudahan dan kemajuan teknologi digital, sangat penting untuk Anda tetap menerapkan online backups dan onsite backups. Kejahatan siber yang bisa ditemukan di berbagai celah yang kurang kita perhatikan, bisa menjadi peluang bagi mereka jika kita tidak mempersiapkan data cadangan. Diperlukan juga pengawas atau pihak yang memonitor data secara profesional dan optimal.

  1. Terlalu sibuk mengawasi sistem hingga tidak melakukan pengembangan atau pembaharuan.

Setiap perusahaan atau organisasi pasti memiliki tim IT atau bagian sistem informasi yang bertanggungjawab atas segala keamanan dan semua perjalanan transaksi informasi dan data. Namun perlu diperhatikan, jangan sampai tim teknologi Anda terlalu sibuk mengantisipasi, mengawasi, dan mengatasi permasalahan data, hingga lupa untuk melakukan perkembangan atau inovasi yang juga penting dilakukan. Untuk itu, pastikan tim IT atau sistem informasi dalam perusahaan Anda tidak terdistraksi dan hanya terfokus pada satu bagian saja, tetapi dapat selaras dan mampu mengemban setiap bagian yang telah ditentukan.

  1. Kurangnya pekerja yang tersertifikasi

Sertifikasi atau pelatihan tidak hanya bermanfaat bagi peserta yang mengikuti, tetapi juga pada organisasi tempat peserta akan mempraktikannya. Dari level C hingga pegawai magang, sangat penting untuk melatih dan memberikan wawasan akan pentingnya menjaga keamanan data dalam perangkat atau alat apapun yang digunakan. Setiap pihak juga harus tahu kapan dan bagaimana menghubungi rekan yang lebih profesional untuk membantu terkait pengelolaan data. Perusahaan dengan pegawai yang terlatih tentu tetap memiliki risiko tinggi terhadap kebocoran data. Lantas, bagaimana dengan yang tidak terlatih sama sekali? Pasti Anda tahu jawabannya.

Baca Juga: 22 Checklist untuk Periksa Keamanan Siber Anda 

Berdasarkan data statistik dari titanfile.com, hanya 5% perusahaan yang benar-benar menerapkan Cyber Security yang tepat, dan hanya 16% eksekutif dalam perusahaan yang memastikan organisasi telah siap menghadapi risiko kejahatan siber yang berpotensi terjadi. Apakah bisnis Anda salah satunya?

Sebelum terlambat dan sebelum red flags dalam Cyber Security ini terjadi dalam bisnis Anda, jadilah Cyber Security Advanced yang mampu mengelola keamanan data secara lebih akurat. Ikuti pelatihan Cyber Security Advanced yang diselenggarakan oleh IT Governance Indonesia, pionir dari pelatihan dan sertifikasi sistem informasi yang terpercaya dan terbaik di Indonesia. Anda tertarik? Hubungi kami sekarang untuk informasi selengkapnya!

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]