Dunia teknologi informasi bergerak terlalu cepat untuk dikelola dengan cara lama. Setiap minggu ada pembicaraan baru: AI automation, predictive analytics, generative AI, sampai autonomous operations yang dulu hanya muncul di paper akademik. Belum selesai sebuah tim mempelajari satu hal, sudah muncul hal lain yang menuntut perhatian. Governance data, manajemen risiko AI, kompleksitas layanan digital yang berlapis, hingga perilaku pelanggan yang makin sulit ditebak.
Persoalannya, banyak framework manajemen IT yang sampai sekarang dipakai masih terasa terlalu teoritis. Dokumentasinya tebal. Konsepnya rapi. Tapi begitu masuk ke lapangan, banyak praktisi yang justru bingung sendiri.
“Lalu ini sebenarnya diterapkannya bagaimana?”
Pertanyaan sederhana itu pada akhirnya menjadi salah satu pendorong lahirnya ITIL Foundation Versi 5.
Versi terbaru ini bukan sekadar update kosmetik atau pergantian istilah supaya terlihat segar. ITIL v5 muncul dengan pergeseran cara berpikir yang cukup besar , lebih praktis, lebih relevan terhadap ekosistem AI, dan lebih realistis dalam menghadapi dunia bisnis yang penuh ketidakpastian.
Yang menarik, framework ini secara eksplisit memposisikan dirinya sebagai AI-native dan complexity-native. Artinya, ITIL v5 tidak lagi hanya cocok untuk era operasional IT tradisional. Ia mulai diarahkan menjadi panduan kerja bagi organisasi modern yang harus bertahan di tengah dunia VUCA ( volatile, uncertain, complex, ambiguous).
Kenapa ITIL Harus Berubah
Kalau diperhatikan dengan kepala dingin, perubahan ini sebetulnya hampir tidak bisa dihindari.
AI mengubah cara kerja service desk. Cloud mengubah pola infrastruktur bisnis. Automation menggeser banyak workflow operasional yang dulunya manual. Pelanggan, di sisi lain, sekarang menuntut layanan digital yang jauh lebih cepat dan jauh lebih personal dibanding lima tahun lalu.
Tim IT bukan satu-satunya yang terdampak, tapi mereka yang biasanya paling dulu merasakan tekanannya. Downtime harus serendah mungkin. Perubahan sistem harus cepat tapi tetap aman. Keamanan data tidak boleh tergores sedikit pun. Inovasi pun tidak boleh berhenti dengan alasan “sedang konsolidasi”.
Di atas semua itu, pendekatan IT service management tradisional kerap terasa terlalu kaku. Banyak praktisi merasa framework yang dipakai terlalu fokus pada teori dibanding implementasi nyata di lingkungan kerja yang berisik dan jauh dari ideal.
Hal ini bukan asumsi liar. Tim pengembang ITIL Foundation Versi 5 , Roman Jouravlev dan Adam Griffith dari PeopleCert , menjelaskan bahwa para praktisi memang menginginkan panduan yang lebih konkret tentang bagaimana prinsip ITIL diterapkan di dunia nyata. Mereka ingin memahami dampak AI terhadap operasional, melihat workflow yang masuk akal, dan mengetahui bagaimana teori ITIL diterjemahkan menjadi praktik harian di organisasi.
Dan jujur saja, itu memang kebutuhan terbesar industri saat ini. Perusahaan tidak kekurangan teori. Mereka kekurangan framework yang benar-benar bisa dipakai.
Untuk memperjelas perubahan konteks ini, perbandingan singkat berikut bisa membantu:
| Aspek | Era IT Tradisional | Era IT Modern |
| Fokus utama | Maintenance dan stabilitas | Inovasi dan adaptasi |
| Kecepatan perubahan | Lambat dan terencana | Cepat dan kerap tidak terduga |
| Peran AI | Tambahan opsional | Bagian inti operasional |
| Pendekatan governance | Rigid dan birokratis | Adaptif dan kontekstual |
| Ukuran kesuksesan | SLA dan uptime | Customer experience dan kecepatan respons |
| Pola perencanaan | Roadmap lima tahun | Iterasi pendek dan eksperimen |
Dari ITIL 4 ke ITIL v5: Evolusi, Bukan Revolusi
ITIL 4 sebetulnya sudah membawa perubahan yang lumayan signifikan ketika dirilis pada tahun 2019. Framework ini mulai meninggalkan pendekatan lama yang terlalu proses-sentris, lalu bergeser ke arah yang lebih utuh melalui konsep Service Value System.
Konsep ini mencakup governance, value chain, practices, guiding principles, dan continual improvement. Sebuah pendekatan yang membuat ITIL terasa jauh lebih modern dibanding versi-versi sebelumnya.
Namun bukan berarti ITIL 4 lepas dari kritik. Beberapa praktisi menganggap model value chain di ITIL 4 masih cukup membingungkan, terutama saat dijelaskan kepada peserta yang baru pertama kali bersentuhan dengan framework ini. Belum lagi keberadaan 34 practices yang dirasa terlalu berat untuk level Foundation. Bayangkan saja , pemula yang baru masuk dunia ITSM langsung dihadapkan pada daftar panjang praktik yang harus dipahami satu per satu.
Di titik itulah ITIL v5 melakukan penyederhanaan. Tetapi penting digarisbawahi: ini bukan revolusi total. Fondasi sebelumnya tidak dibuang. Yang dilakukan adalah membuat framework menjadi lebih mudah dicerna dan lebih dekat dengan kebutuhan operasional sehari-hari.
Pendekatannya lebih tepat disebut evolusi strategis. Tidak ada keinginan untuk membalik meja, tapi ada usaha serius untuk memperbaiki celah-celah yang selama ini terasa mengganjal di lapangan.
Baca juga : Fokus Inti dan Perbedaan Utama COBIT 2019 vs ITIL v4
AI-Native: Ketika AI Bukan Lagi Tamu di Ruang Operasional
Perubahan besar pertama yang patut diperhatikan adalah pendekatan AI-native.
Istilah ini bukan gimmick marketing. ITIL benar-benar mulai memperlakukan AI sebagai bagian inti dari operasional bisnis modern, bukan sekadar tools tambahan yang dipasang di pinggiran proses.
Dan kalau kita lihat realitas perusahaan hari ini, pendekatan ini sebetulnya masuk akal. Banyak organisasi sudah menggunakan AI hampir di seluruh area layanan digital , chatbot customer service yang menjawab pertanyaan 24 jam nonstop, automated ticketing yang mengkategorikan tiket sebelum agen sempat membukanya, incident prediction yang mendeteksi anomali sebelum tumbuh menjadi gangguan besar, monitoring system yang menganalisis pola log secara real-time, AI analytics yang memberi rekomendasi keputusan, sampai AI-assisted decision making di level strategis.
Tetapi semakin besar penggunaan AI, semakin besar pula kebutuhan akan governance. Tanpa governance yang tepat, AI justru bisa menciptakan masalah baru yang lebih sulit ditangani dibanding masalah-masalah lama yang sudah kita kenal.
| Risiko AI Tanpa Governance | Dampak Operasional |
| Keputusan tidak transparan | Sulit diaudit, sulit dipertanggungjawabkan |
| Bias data | Output AI menjadi tidak adil atau tidak akurat |
| Kebocoran informasi | Data sensitif tersebar melalui model atau log |
| Automasi yang salah arah | Kesalahan diperkuat oleh AI dengan kecepatan tinggi |
| Ketergantungan berlebih | Tim kehilangan kapabilitas analitis manual |
| Etika yang terabaikan | AI mengambil keputusan yang merugikan kelompok tertentu |
ITIL v5 mencoba menjawab tantangan ini dengan membangun kerangka kerja yang mempertimbangkan penggunaan AI sejak awal. AI tidak dianggap “tambahan”, melainkan bagian dari sistem operasional organisasi. Cara berpikir ini bergeser cukup tajam dibanding asumsi lama.
Banyak framework lama masih berpikir bahwa teknologi boleh berubah, tapi governance tetap sama. Padahal kenyataannya, AI mengubah hampir seluruh pola kerja digital , dari cara tim membuat keputusan sampai cara mereka berkomunikasi dengan pelanggan.
Complexity-Native: Mengelola Hal yang Sulit Diprediksi
Selain AI-native, prinsip kedua yang juga penting adalah complexity-native. Bisa dibilang inilah bagian paling krusial dari evolusi ITIL.
Kenapa? Karena dunia bisnis modern memang tidak stabil. Perusahaan hari ini hidup di tengah situasi yang berubah cepat, sulit diprediksi, penuh ketidakpastian, dan saling terkait satu sama lain dalam cara yang kompleks.
Dulu organisasi bisa membuat roadmap lima tahun dengan cukup percaya diri. Bahkan ada perusahaan yang nekat membuat rencana sepuluh tahun ke depan. Sekarang? Strategi tiga bulan saja kadang sudah berubah total , bisa karena ada pergeseran regulasi, gangguan supply chain, atau pesaing baru yang muncul tiba-tiba dengan produk yang lebih murah dan lebih cepat.
Dalam dunia seperti ini, framework yang terlalu rigid akan kesulitan bertahan.
ITIL v5 tampaknya memahami betul kondisi tersebut. Framework ini tidak lagi hanya fokus pada “menjalankan rencana” yang sudah disusun rapi di awal tahun, tetapi juga mendukung eksperimen sebagai cara organisasi menemukan arah terbaiknya. Pendekatan ini sejalan dengan konsep agile service management dan adaptive governance yang sudah mulai banyak diadopsi perusahaan modern.
Di era VUCA, organisasi terbaik bukanlah yang paling rapi membuat perencanaan. Tetapi yang paling cepat belajar dan beradaptasi terhadap kondisi yang sebenarnya tidak pernah bisa diramalkan sepenuhnya.
Pendekatan complexity-native ini juga menggeser cara organisasi memandang kegagalan. Dulu kegagalan sebuah inisiatif sering dianggap sebagai aib yang harus dikubur diam-diam. Sekarang, dalam kerangka berpikir yang lebih adaptif, kegagalan kecil justru dilihat sebagai bagian dari proses belajar yang sehat. Selama kegagalan itu tidak berdampak luas dan pelajarannya bisa diangkat ke permukaan, organisasi sebenarnya sedang membangun kapasitas adaptasinya sendiri.
Baca juga : 101 Pertanyaan dan Jawaban Tentang ITIL 4 yang Sering Diajukan
Model Siklus Hidup Delapan Tahap: Menyatukan Produk dan Layanan
Salah satu pembaruan paling menarik di ITIL v5 adalah hadirnya model ITIL Product and Service Lifecycle yang terdiri dari delapan tahap.
| No | Tahap | Fokus Utama |
| 1 | Discover | Memahami kebutuhan, peluang, dan konteks bisnis |
| 2 | Design | Merancang solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas |
| 3 | Acquire | Mengamankan sumber daya dan kapabilitas yang diperlukan |
| 4 | Build | Membangun produk atau layanan secara teknis dan fungsional |
| 5 | Transition | Memindahkan solusi dari pengembangan ke lingkungan operasional |
| 6 | Operate | Menjalankan layanan secara berkelanjutan |
| 7 | Deliver | Menyampaikan nilai kepada pengguna dan pelanggan |
| 8 | Support | Memberikan bantuan dan menangani gangguan yang muncul |
Sekilas terlihat seperti lifecycle biasa yang sudah pernah kita temui di berbagai framework lain. Tapi sebenarnya ada perubahan filosofi yang cukup besar di balik model ini.
ITIL v5 ingin menghapus pemisahan tradisional antara “produk digital” dan “layanan digital”. Framework ini menegaskan bahwa produk dan layanan adalah dua sisi dari solusi teknologi yang sama, bukan dua dunia yang berdiri sendiri.
Kalau dipikir-pikir, ini sangat relevan dengan kondisi bisnis digital saat ini. Aplikasi bukan hanya produk yang dirilis lalu selesai. Layanan cloud bukan sekadar layanan yang dikontrak per bulan. Customer experience juga tidak bisa dipisahkan dari proses pengembangan produk.
Ambil contoh aplikasi fintech sebagai ilustrasi sederhana. Tim developer tentu dibutuhkan untuk membangun produknya. Tapi tanpa incident management yang baik, satu kesalahan kecil bisa menghancurkan kepercayaan pengguna. Tanpa support system yang responsif, pengguna yang kebingungan akan langsung pindah ke kompetitor. Tanpa customer journey yang dirancang sejak awal, pengalaman pengguna akan terasa terputus-putus. Operational governance memastikan layanan berjalan sesuai aturan regulator. Continual improvement memastikan layanan tidak ketinggalan zaman.
Semua perspektif itu, oleh ITIL v5, dicoba disatukan dalam satu kerangka kerja yang lebih integratif.
Praktik Manajemen yang Lebih Membumi
Salah satu kritik klasik terhadap framework ITSM tradisional adalah terlalu banyak istilah abstrak. Orang hafal definisi. Lulus ujian dengan nilai bagus. Tapi begitu kembali ke kantor, mereka bingung harus mulai dari mana.
ITIL v5 mencoba memperbaiki masalah ini dengan menghadirkan definisi praktik yang lebih jelas dan lebih bisa dipakai untuk area-area penting.
| Praktik Inti | Yang Coba Diperjelas di ITIL v5 |
| Problem Management | Cara mengidentifikasi akar masalah dan mencegah pengulangan insiden |
| Change Management | Pendekatan perubahan yang seimbang antara kecepatan dan kontrol |
| Incident Management | Workflow penanganan gangguan yang lebih relevan untuk lingkungan AI |
Selain itu, panduan praktik lengkap juga disediakan melalui official ITIL Practice Guides. Artinya, pembelajaran tidak berhenti di level teori Foundation saja. Praktisi yang ingin mendalami satu area tertentu punya jalur yang jelas untuk melakukannya.
Hal ini penting terutama bagi perusahaan yang sedang berada di tengah upaya transformasi besar , digital transformation, enterprise service management, IT governance modernization, atau AI-enabled operations. Tantangan terbesar bagi organisasi semacam itu biasanya bukan memahami istilah teknis. Tantangan terbesarnya adalah menerjemahkan framework menjadi workflow yang benar-benar berjalan di lapangan.
Baca juga : Peran ITIL dalam Rencana Tanggap Insiden Siber OJK
Belajar dari Cerita, Bukan dari Hafalan
Perubahan lain yang menurut saya cukup segar adalah metode pembelajaran berbasis narasi.
ITIL Foundation Versi 5 menggunakan cerita fiksi tentang sebuah perusahaan yang sedang menjalani transformasi berbasis AI sebagai media pembelajaran. Sekilas terdengar sederhana. Tapi pendekatan ini sebenarnya cukup cerdas.
Mengapa? Karena sebagian besar kegagalan implementasi framework di lapangan terjadi akibat jurang antara teori di kelas dan realita di kantor.
Di dunia nyata, transformasi digital hampir tidak pernah berjalan mulus. Selalu ada konflik internal antar tim. Prioritas bisnis bisa berubah di tengah jalan karena ada permintaan mendadak dari board. Deadline yang awalnya longgar tiba-tiba menjadi sempit karena muncul peluang pasar baru. Budget yang sudah disetujui bisa dipotong tanpa peringatan. Karyawan yang sudah nyaman dengan cara lama akan menunjukkan resistensi , kadang halus, kadang terang-terangan. Belum lagi ketidakpastian teknologi yang membuat keputusan hari ini bisa terasa salah dalam enam bulan ke depan.
Narasi berbasis skenario membantu peserta memahami bagaimana teori ITIL diterapkan dalam kondisi yang berantakan dan tidak ideal seperti itu. Pendekatan ini jauh lebih efektif dibanding sekadar menghafal definisi yang akan dilupakan beberapa minggu setelah ujian.

Appendices yang Bukan Sekadar Pelengkap
Satu hal yang sering luput dari perhatian saat membahas ITIL v5 adalah keberadaan appendices yang dirancang sebagai toolkit praktis.
Biasanya lampiran di sebuah framework dianggap sebagai tambahan dokumentasi yang jarang dibuka. Tapi di versi ini, appendices justru diposisikan sebagai perangkat kerja yang bisa langsung dibawa ke meja kerja sehari-hari.
Hal ini menandakan perubahan arah yang cukup tegas. ITIL ingin menjadi framework operasional yang benar-benar dipakai, bukan hanya dipelajari untuk dapat sertifikat dan dipajang di LinkedIn.
Dan itu poin yang penting. Sebab terlalu banyak organisasi yang punya banyak staf bersertifikasi tinggi, tapi implementasi sehari-harinya tetap berantakan. Sertifikasi pada akhirnya hanya selembar kertas kalau tidak diterjemahkan menjadi cara kerja yang nyata.
Pintu Masuk Menuju Jalur Sertifikasi yang Lebih Strategis
ITIL Foundation Versi 5 juga dirancang sebagai pintu masuk menuju jalur pembelajaran yang lebih dalam. Framework ini terintegrasi dengan beberapa modul lanjutan, masing-masing dengan fokus yang berbeda.
| Modul Lanjutan | Fokus Utama |
| ITIL Product | Pengelolaan produk digital dari sisi siklus hidupnya |
| ITIL Service | Pengelolaan layanan dan interaksi dengan pelanggan |
| ITIL Experience | Pengalaman pengguna dan pelanggan secara end-to-end |
| ITIL Practice Manager | Pengelolaan praktik-praktik kunci di dalam organisasi |
| ITIL Strategy | Penyusunan arah strategis di level eksekutif |
| ITIL Transformation | Transformasi organisasi secara menyeluruh |
Yang menarik, modul ITIL Transformation menjadi benang merah yang muncul di berbagai jalur sertifikasi. Dan ini sebetulnya cukup masuk akal.
Karena kalau dilihat lebih jujur, hampir semua organisasi sekarang sedang berada dalam suatu bentuk transformasi , transformasi digital, transformasi operasional, transformasi customer experience, atau transformasi yang dipicu oleh AI. Tidak ada lagi perusahaan yang benar-benar berada dalam kondisi “stabil” dalam pengertian klasik.
ITIL tampaknya sadar bahwa masa depan IT service management tidak lagi sekadar soal maintenance. Yang lebih penting adalah kemampuan organisasi untuk beradaptasi secara berkelanjutan.
Baca juga : Alasan Training Praktikal Jauh Lebih Penting Dibanding Sekadar Sertifikasi IT
Mengapa ITIL v5 Relevan untuk Masa Depan IT Management
Kalau kita mundur sebentar dan melihat gambaran besarnya, ITIL v5 sebenarnya sedang mencoba menjawab satu pertanyaan besar:
Bagaimana caranya organisasi tetap stabil di dunia yang terus berubah?
Jawabannya jelas bukan SOP yang makin tebal. Bukan pula alur approval yang makin panjang. Apalagi governance yang makin birokratis sampai menjadi penghambat alih-alih pendukung.
Justru sebaliknya. Organisasi modern butuh hal-hal yang terdengar paradoksal di permukaan, tapi sebetulnya saling melengkapi satu sama lain.
| Yang Dibutuhkan Organisasi Modern | Apa Maksudnya |
| Governance yang adaptif | Aturan yang bisa menyesuaikan diri dengan konteks situasi |
| Service management yang fleksibel | Pengelolaan layanan yang tidak terjebak pada prosedur kaku |
| Continual improvement | Perbaikan kecil yang terus berjalan, bukan sekali jadi |
| Kemampuan eksperimen | Kebebasan mencoba ide baru tanpa mengorbankan stabilitas |
| Kontrol yang masuk akal | Pengawasan yang tidak melumpuhkan kecepatan operasional |
| Pembelajaran berkelanjutan | Budaya yang menormalkan refleksi dan koreksi cepat |
ITIL v5 berusaha membawa organisasi ke arah itu. Framework ini tidak hanya bicara soal operasional IT, tapi juga tentang bagaimana sebuah organisasi belajar menghadapi kompleksitas modern.
Kalau kita perhatikan polanya, ITIL v5 sebenarnya sedang menggeser peran framework , dari sekadar standar yang harus diikuti menjadi alat bantu berpikir yang membantu organisasi memahami kondisinya sendiri. Pergeseran ini halus, tapi dampaknya cukup luas.
Bagaimana Praktisi Bisa Mulai Mengadopsi ITIL v5
Setelah memahami arah perubahannya, pertanyaan yang masuk akal berikutnya adalah: lalu praktisi seperti kita harus mulai dari mana?
Tidak ada jawaban tunggal yang berlaku untuk semua. Tapi ada beberapa titik awal yang biasanya masuk akal untuk organisasi yang ingin mengadopsi pendekatan ITIL v5 secara bertahap.
| Tahap Adopsi | Aktivitas yang Bisa Dimulai |
| Pemahaman awal | Mengikuti pelatihan Foundation untuk membangun fondasi konsep bersama tim |
| Pemetaan kondisi | Mengaudit praktik ITSM yang sedang berjalan dan mengidentifikasi celahnya |
| Penyesuaian governance | Meninjau ulang struktur governance agar lebih adaptif terhadap AI |
| Eksperimen kecil | Memilih satu workflow operasional sebagai pilot transformasi |
| Skalasi bertahap | Memperluas praktik baru ke unit lain setelah pilot menunjukkan hasil |
| Pembelajaran kolektif | Mendokumentasikan pelajaran dari setiap eksperimen dan membaginya internal |
Pendekatan bertahap seperti ini biasanya lebih realistis dibanding mencoba mengubah seluruh organisasi sekaligus. Transformasi yang dipaksakan dalam satu malam justru cenderung gagal karena resistensinya terlalu besar.
Selain itu, perjalanan adopsi ini juga membutuhkan kesabaran dan kepala dingin. Banyak proyek transformasi IT gagal bukan karena frameworknya yang salah, tetapi karena ekspektasinya tidak realistis. Manajemen ingin melihat hasil dalam tiga bulan, padahal perubahan budaya kerja biasanya butuh waktu lebih panjang. Tim teknis ingin langsung mengaplikasikan semua praktik baru sekaligus, padahal kapasitas organisasi punya batas. Di sinilah peran komunikasi yang jujur menjadi sangat penting , antara tim implementasi, manajemen menengah, dan jajaran eksekutif yang mengambil keputusan.

Penutup
ITIL Foundation Versi 5 hadir bukan hanya untuk memperbarui framework lama. Ia hadir untuk menyesuaikan IT service management dengan realitas baru , era AI, transformasi digital yang terus bergulir, dan dunia bisnis yang penuh ketidakpastian.
Pendekatan AI-native dan complexity-native membuat ITIL v5 terasa jauh lebih relevan untuk organisasi modern dibanding versi-versi sebelumnya. Ditambah dengan model siklus hidup delapan tahap, pendekatan pembelajaran berbasis praktik, integrasi antara produk dan layanan, serta jalur sertifikasi yang lebih strategis, semua elemen ini menunjukkan satu hal yang cukup jelas.
ITIL tidak lagi ingin sekadar menjadi framework teori. Ia ingin menjadi sistem navigasi untuk organisasi digital modern yang sedang berusaha bertahan dan tumbuh di tengah perubahan yang tidak berhenti.
Dan kalau memang dunia akan terus berubah secepat ini , dan sepertinya memang akan begitu , maka kemampuan beradaptasi mungkin benar-benar menjadi aset paling penting yang bisa dimiliki sebuah perusahaan saat ini.
Pada akhirnya, framework apa pun, termasuk ITIL v5, tetaplah alat. Yang menentukan hasilnya adalah cara organisasi menggunakan alat tersebut. Tim yang terus belajar, terus mempertanyakan asumsinya sendiri, dan terus berani mencoba pendekatan baru biasanya akan lebih dulu sampai. Sementara mereka yang terjebak pada kenyamanan lama akan tertinggal dengan dokumentasi yang lengkap, tapi tidak relevan lagi.
Di situlah letak nilai sebenarnya dari ITIL Foundation Versi 5 , bukan pada apa yang ditulis di dalamnya, tetapi pada cara berpikir baru yang coba ia tularkan kepada para praktisinya. Dan mungkin itulah hadiah paling berharga dari sebuah framework di tengah dunia yang sudah terlalu sibuk mencari kepastian yang tidak akan pernah benar-benar datang.