Hotel Mewah Milik Donald Trump Alami Kebocoran Data

Hotel Trump, salah satu jaringan hotel mewah milik Donald Trump mempublikasikan informasi pada masyarakat bahwa hotel mereka mengalami kebocoran data kartu kredit. Hotel milik kandidat presiden dari Partai Republik itu menyatakan bahwa mereka sudah melakukan notifikasi bahwa mereka telah diretas oleh penjahat siber. Hal itu disampaikan oleh VP dari jaringan hotel itu yaitu Eric Trump. “Kami sudah memberi kabar tersebut pada pengguna kartu kredit dan masih mendalami insiden itu,” ujar Eric.

Menurut hasil temuan tim perbankan, sekitar enam hotel mewah milik Trump dipastikan mengalami kebocoran data. Hotel tersebut berada di Miami, Honolulu, Chicago, Las Vegas, Los Angeles, dan New York. Kejadian ini merupakan peristiwa berantai yang mana sebelumnya kasus tersebut menimpa sejumlah hotel berbintang lima. Beberapa bulan, Mandarin Oriental Hotel di Bangkok mengalami hal yang sama. Sebelumnya, jaringan hotel milik firma White Lodging pun harus kehilangan sejumlah data kartu kredit pelanggannya.

Brian Krebs dalam situsnya Krebs on Security mengatakan bahwa pembobolan kartu kredit itu tidak lepas dari masih lemahnya teknologi magnet yang digunakan saat ini. Krebs menuturkan bahwa teknologi magnet pada kartu kredit ataupun debit sangat rentan disalahgunakan. Salah satu metode terbaik untuk meminimalisir risiko kebocoran data menurut Krebs adalah migrasi teknologi dari kartu magnet menjadi kartu chip. Oktober tahun lalu, Presiden Obama telah menandatangani penggunaan teknologi PIN dan chip pada kartu kredit dan debit.

Kejadian ini cukup membuat pukulan yang sangat telak bagi Donald Trump. Menurut aturan yang berlaku di AS, setiap penyedia jasa yang menggunakan pembayaran elektronik harus bertanggung jawab pada konsumen bila terjadi kebocoran data. Jika penyedia jasa tidak comply pada aturan yang berlaku, maka mereka akan terkena penalti. Di satu sisi, cita-cita Donald Trump untuk menjadi presiden pun terhambat pasca pernyataannya yang berbau rasis sehingga menyinggung warga AS keturunan Latin.

Dalam pemaparannya, Krebs menjelaskan bahwa pada Oktober 2015, mayoritas merchant akan mengalami banyak kerugian dan risiko dari ancaman fraud jika belum mengimplementasikan teknologi PIN dan chip. Walaupun begitu, industri perbankan AS masih ragu akan mampu memperbaharui teknologinya sebelum tenggat waktu berakhir. Krebs menyimpulkan bahwa dengan teknologi PIN dan chip, penjahat siber akan kesulitan untuk mendapatkan uang “lebih”. Untuk itulah, mereka mengincar uang tersebut sebelum teknologi itu diimplementasikan.

Sumber: ciso.co.id

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

×

Powered by WhatsApp Chat

× Apa yang bisa kami bantu?