Indonesia Jangan Naif, Fokus ke Software Saja!

Indonesia dinilai masih berpeluang untuk berbicara banyak di industri aplikasi piranti lunak seperti aplikasi dan software, ketimbang memaksakan diri untuk terjun ke industri perangkat keras (hardware).

Demikian dikatakan Direktur Industri Elektronik dan Telematika, Kemenperin, Ignatius Warsito, dalam diskusi Impact of Apps Economy for Job Creation and Creativity in Indonesia, di Mercantile Athletic Club, Jakarta, Rabu (16/9/2015).

“Nilai industri software ke depan bisa dobel digit. Sekarang saja total bisa Rp 200 triliun lebih. Jadi alangkah naifnya kalau kita nggak concern ke software dan konten,” tegasnya.

Kemenperin sendiri tak mau asal bicara alias omdo. Sebagai buktinya, mereka mengaku siap membangun pusat desain ponsel dan aplikasi mobile di Batam.

Pusat desain yang rencananya diberi nama Batam Techno Park itu diperkirakan bisa menghabiskan alokasi dana sekitar Rp 11 miliar dari APBN.

Sementara menurut Michael Mandel, Chief Economic Strategist dari Progressive Policy Institute, per Juli 2015, ada 1,6 juta aplikasi mobile yang tersedia di Play Store Android dan 1,5 juta aplikasi iOS di Apple App Store.

Dalam kesempatan diskusi di tempat yang sama dengan Kemenperin, ia menilai aplikasi mobile bisa punya peranan besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Aplikasi juga dinilai bisa membuka jutaan lapangan pekerjaan baru di Indonesia. Sebagai contoh, hal itu yang telah dilakukan oleh mobile apps seperti Uber dan Go-Jek.

“Banyak orang salah kaprah karena berpikir aplikasi mobile itu cuma sekadar game dan social medi. Padahal kenyataannya, itu cuma sebagian kecil dari ekosistem apps economic saja,” sesalnya.

Community Engagement South East Asia Uber Technologies, Deborah Nga mengatakan, saat ini pihaknya telah menggandeng 6.000 mitra pengemudi mobil di Indonesia sejak mereka beroperasi sejak Agustus 2014.

“Mitra pengemudi kami paling banyak dari Jakarta, dan sisanya di Bandung dan Bali. Kebanyakan dari mereka bergabung lewat perusahaan rental mobil atau koperasi,” ungkapnya.

Jumlah ini, disebut Deborah, akan terus bertambah karena Uber mempersilakan siapa saja untuk menjadi mitra pengemudi guna meraih pendapatan ekstra.

Kebanyakan mitra pengemudi bergabung di layanan UberX yang menyediakan tarif lebih murah dibandingkan layanan premium UberBlack. Uber mengklaim UberX lebih murah 30% dibandingkan tarif taksi.

Di Indonesia, Uber mengatakan bakal terus berinvestasi jutaan dolar AS untuk membangun pusat layanan sampai pusat pelatihan bagi para pengemudi.

“Minggu ini kami ajukan PMA ke BKPM supaya bisa jadi PT di Indonesia. Kami sudah investasi jutaan dolar dan kami masih akan investasi jutaan lagi,” pungkasnya.

Sumber: detik.com

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

×

Powered by WhatsApp Chat

× Apa yang bisa kami bantu?