Kajian Ilmiah Strategi Penghentian Pandemi Covid-19 dengan Physical Distancing

Sampai hari ketika artikel ini ditulis, jumlah pasien positif terjangkit virus Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah. Ironinya, satupun orang di Indonesia bahkan dunia belum menemukan cara mengatasi atau menghentikan penyebarannya dengan cepat. Begitu juga dengan obat yang valid untuk menyembuhkan penyakit akibat virus tersebut.

Akan tetapi, kita harus meyakini bahwa satu-satunya cara untuk mengendalikan atau menghentikan penyebaran pandemi Covid-19 adalah dengan physical distancing atau  pembatasan secara fisik. Cara ini tentu saja tidak tunggal, harus disertai dengan strategi lainnya seperti pemeriksaan, karantina, hingga pengisolasian secara cepat. Dengan menerapkan cara-cara tersebut, maka proses pengendaliannya dapat terhitung berdasar pada data ilmiah.

Di Indonesia, metode penghitungan data yang dipakai untuk melihat penyebaran virus Corona adalah dengan pemodelan sistem dinamik yang memiliki persamaan diferensi orde 30, yang mana nonlinier dengan umpan balik positifnya. Validasinya dilakukan dengan melihat kecocokan skenario physical distancing dengan data yang ada dan model kurva Richard untuk pandemi.

Hasilnya luar biasa, physical distancing yang disiplin dengan pemeriksaan lebih awal secara cepat ternyata sangat efektif untuk memperkecil penyebaran Covid-19 di Indonesia. Dengan perkiraan total angka pasien terinfeksi virus Corona belasan ribu orang, maka setelah itu pandemi tersebut segera hilang.

Namun sebaliknya, jika kebijakan agar warga melakukan physical distancing tidak terlaksana dengan serius, maka jumlahnya akan jauh melebihi angka prediksi tersebut. Perkiraannya melewati angka psikologis 1 juta warga, dan akan berlangsung lebih lama.

 

Asumsi penundaan, ketidakakuratan, dan keterlambatan penanganan dalam analisa data ilmiah

Data ilmiah yang diperoleh merupakan hasil simulasi skenario physical distancing yang diberlakukan kepada seluruh warga. Simulasi tersebut berlangsung pada tiga tingkat kedisiplinan yaitu skenario ketat, moderat dan longgar, serta tambahan scenario berupa perluasan ruang lingkung deteksi dan isolasi.

Sebelum memaparkan tiga tipe simulasi physical distancing tersebut, kita juga perlu mengetahui kondisi kelemahan atas praktik penyampaian informasi tentang pasien terinfeksi dan keseriusan menjalani simulasi.

Pertama, adanya selisih waktu antara hasil pemeriksaan pasien di rumah sakit dengan pengumuman secara resmi oleh pemerintah kepada semua warga. Penundaan yang diasumsikan sangat moderat rata-rata selama tiga hari. Semakin lama selisih waktu penundaan tersebut, semakin besar perbedaan angka yang diumumkan dengan kondisi aktualnya.

Kedua, rendahnya peluang terdeteksi positif Covid-19 ketika masih dalam fase inkubasi. Rata-rata kemampuan pendeteksian pada masa isolasi hanya sekitar 40 persen pada fase tersebut. Tidak hanya itu, diketahui juga sekitar 40-60 persen terjangkit yang memperlihatkan gejala sakit ringan, bahkan tidak ada gejala sama sekali.

Ketiga, simulasi yang dilakukan dalam riset ini menganggap physical distancing mulai berjalan efektif pada 30 Maret 2020.

 

Simulasi skenario physical distancing yang bersifat ketat

Skenario physical distancing dengan kedisiplinan tinggi ini merupakan strategi agar penurunan angka batas atas akumulasi kasus terkonfirmasi dapat berlangsung cepat, serta mengurangi durasi siklus. Syaratnya adalah setiap orang yang terjangkit harus dapat memastikan dirinya mengurangi laju penularan. Bahkan, setiap orang harus memastikan peluang penularan turun, baik sebagai yang menularkan maupun yang berpotensi tertular.

Dengan asumsi ini, maka kita akan menemukan akhir siklus terjadi pada minggu pertama Mei 2020, dengan akumulasi positif terjangkit sekitar 11 ribu jiwa. Puncak kasusnya diperkirakan pada minggu pertama April 2020 dengan 821 penambahan kasus setiap harinya.

 

Simulasi skenario physical distancing yang bersifat moderat

Pada simulasi ini skenario pembatasan secara fisik tidak terlaksana begitu ketat. Kendati demikian, hasilnya cukup signifikan berbeda. Dalam skenario ini kemampuan untuk mempercepat penurunan penularan hanya mencapai setengah dari nilai awalnya. Hasil simulasi ini memprediksikan siklus akan berlangsung sangat lama pada minggu kedua November 2020 dengan akumulasi confirmed case mencapai sekitar 43 ribu jiwa. Puncak siklus diperkirakan terjadi pada 9 April 2020 dengan kisaran kasus positif 990 orang per hari, dan perlahan turun hingga 2 orang setiap harinya.

 

Simulasi Skenario Physical distancing yang besifat longar

Simulasi ini dianggap merupakan suatu kegagalan skenario physical distancing. Dengan skenario ini, prediksi siklus yang sangat Panjang terjadi pada 18 Maret 2021, dengan patas angka positif terjangkit mencapai 1,9 juta orang. Puncak siklusnya terjadi pada 12 Juli 2020, dengan angka penambahan kasus positif harian 14.720 orang perhari.

 

Simulasi skenario perluasan ruang lingkup deteksi dan isolasi

Perluasan deteksi dan isolasi pada skenario ini dilakukan pada setiap orang yang terjangkit, termasuk yang masih di fase sangat awal. Hal ini seperti yang tengah pemerintah jalankan dengan pengkategorian orang dalam pemantauan (ODP) and pasien dalam pengawasan (PDP) sebelum pemerolehan status positif atau negatif terjangkit Covid-19. Skenario ini juga mampu mengurangi durasi siklus pandemi, serta menurunkan batas atas akumulasi terjangkit.

Skenario ini mengasumsikan deteksi dan isolasi untuk 20 persen orang terinfeksi di fase awal, dan 50 persen di fase tengah dan akhir.  Hasilnya, kita dapat melihat prediksi bahwa siklus akan berakhir pada minggu ketiga Oktober 2020, dengan angka positif terbanyak 57 ribu orang. Puncak siklus terjadi pada minggu pertama April 2020, dengan penambahan kasus positif harian sekitar 1.350 orang.

 

Simulasi gabungan skenario physical distancing moderat disertai perluasan deteksi dan isolasi

Skenario ini menggabungkan asumsi penurunan setengah dari nilai awal penularan sejak physical distancing efektif pada 30 Maret 2020 dengan perluasan deteksi dan isolasi pada 20 persen terinfeksi di fase awal dan 50 persen di fase tengah dan akhir. Hasilnya memprediksikan bahwa siklus pandemi akan berakhir pada minggu pertama Mei 2020, dengan batas atas akumulasi positif terjangkit sekitar 12.750 orang. Puncak siklusnya terjadi pada 2 April 2020 dengan pendambahan kasus harian maksimal 1.368 orang.

 

Dukungan strategi lainnya

Dari simulasi yang dilakukan, angka yang dapat kita lihat dari skenario-skenario tersebut akan berdampak lebih baik jika disertai dengan langkah pencegahan kasus baru. Masuknya kasus baru yang diimpor berpotensi menghasilkan rantai penularan baru yang mempersulit pengendalian. Salah satu cara pencegahannya adalah menghindari perpindahan warga dari daerah yang menjadi episentrum saat ini, seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat ke daerah-daerah lain. Oleh karena itulah, himbauan agar tidak melakukan mudik dari daerah-daerah terjangkit perlu lebih dipertegas menjadi suatu peraturan.

 

Sumber: inet.detik.com

Baca juga :

Panduan Perencanaan Manajemen Kelangsungan Usaha (Business Continuity Management) untuk Ancaman Pandemi COVID-19

Manfaatkan Teknologi Untuk Produktif #Dirumahaja

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

×

Powered by WhatsApp Chat

× Apa yang bisa kami bantu?