Mengukur IT Maturity Level dari Framework COBIT 5

Pemanfaatan teknologi informasi dalam dunia industri sudah sangat penting. Teknologi informasi memberi peluang terjadinya transformasi dan peningkatan produktifitas bisnis. Penerapan teknologi informasi membutuhkan biaya yang cukup besar dengan resiko kegagalan yang tidak kecil. Penerapan teknologi informasi di dalam perusahaan dapat digunakan secara maksimal, untuk itu dibutuhkan pemahaman yang tepat mengenai konsep dasar dari sistem yang berlaku, teknologi yang dimanfaatkan, aplikasi yang digunakan dan pengelolaan operasi serta pengembangan sistem yang dilakukan pada perusahaan tersebut.

Dalam era globalisasi saat ini, perusahaan harus dapat mengatasi masalah dan perubahan yang terjadi secara cepat dan tepat sasaran. Oleh karena itu, faktor yang harus diperhatikan tidak hanya berfokus pada pengelolaan informasi semata, melainkan juga harus fokus untuk menjaga dan meningkatkan mutu informasi perusahaan. Dalam konteks ini, informasi dapat dikatakan menjadi kunci untuk mendukung dan meningkatkan manajemen perusahaan agar dapat memenangkan persaingan yang semakin lama akan semakin cepat dan meningkat.

Peningkatan kebutuhan dari para pelanggan terhadap tuntutan kinerja perusahaan yang lebih baik semakin lama semakin tinggi. Dari satu sisi, tidak hanya melalui hasil (output) berupa produk atau jasa semata, tetapi dewasa ini juga telah mencakup proses yang berhubungan dengan pelanggan. Mulai dari proses pemesanan jasa, proses pengiriman barang, sampai ke bagian keuangan yang berhubungan dengan pelanggan akan lebih terkendali bila terjadi pertukaran informasi secara realtime.

Apabila perusahaan tidak dapat mengelola Informasi dengan baik, maka pelanggan akan dengan mudah berpindah-pindah menuju kepada perusahaan lain.

Salah satu metode pengelolaan teknologi informasi yang digunakan secara luas adalah IT governance yang terdapat pada COBIT 5 (Control Objective for Information and Related Technology). COBIT dapat dikatakan sebagai kerangka kerja teknologi informasi yang dipublikasikan oleh ISACA (Information System Audit and Control Association). COBIT berfungsi mempertemukan semua bisnis kebutuhan kontrol dan isu-isu teknik.

Di samping itu, COBIT 5 juga dirancang agar dapat menjadi alat bantu yang dapat memecahkan permasalahan pada IT governance dalam memahami dan mengelola resiko serta keuntungan yang berhubungan dengan sumber daya informasi perusahaan.

Di samping itu, COBIT 5 juga dirancang agar dapat menjadi alat bantu yang dapat memecahkan permasalahan pada IT governance dalam memahami dan mengelola resiko serta keuntungan yang berhubungan dengan sumber daya informasi perusahaan.

Maka dari itu dibutuhkan metode maturity model untuk mengukur level pengembangan manajemen proses, sejauh mana kapabilitas manajemen tersebut. Seberapa bagusnya pengembangan atau kapabilitas manajemen tergantung pada tercapainya tujuan-tujuan COBIT 5.

Maturity Models dapat dipandang sebagai satu set tingkat terstruktur yang menggambarkan seberapa baik perilaku, praktik dan proses organisasi dapat secara andal dan berkelanjutan menghasilkan hasil yang diperlukan.

Model kematangan dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk perbandingan dan sebagai bantuan untuk memahami – misalnya, untuk penilaian komparatif dari berbagai organisasi di mana ada sesuatu yang sama yang dapat digunakan sebagai dasar untuk perbandingan. Dalam kasus Capability Maturity Models (CMM), misalnya, dasar untuk perbandingan adalah proses pengembangan perangkat lunak organisasi.

Maturity Model ini melibatkan lima aspek:

Maturity Levels: 5 tingkat kontinuitas kematangan proses, di mana tingkat paling atas (ke-5) adalah keadaan ideal di mana proses akan dikelola secara sistematis dengan kombinasi optimasi proses serta peningkatan proses berkelanjutan.

Key Process Areas: Area Proses Utama mengidentifikasi sekelompok kegiatan terkait, ketika dilakukan bersama, mencapai serangkaian tujuan yang dianggap penting.

Goals: tujuan dari area proses utama merangkum keadaan yang harus ada agar area proses utama diimplementasikan dengan cara yang efektif dan bertahan lama. Sejauh mana tujuan telah dicapai adalah indikator seberapa besar kemampuan organisasi telah menetapkan maturity levels.

Common Features: fitur umum termasuk praktik dalam menerapkan key process area. Ada lima jenis fitur umum: komitmen untuk melakukan, kemampuan untuk melakukan, kegiatan yang dilakukan, analisis pengukuran, dan verifikasi implementasi.

Key Practices: Praktik-praktik utama menggambarkan elemen-elemen infrastruktur dan praktik yang berkontribusi paling efektif terhadap implementasi area.

Ada lima level yang dapat didefinisikan dalam rangkaian model menurut SEI: Prediktabilitas, efektifitas, dan kontrol proses perangkat lunak organisasi diyakini dapat membaik ketika organisasi bergerak naik mencapai ke lima level ini.

  1. Initial: merupakan titik awal untuk penggunaan proses pengulangan yang baru atau tidak berdokumen.
  2. Repeatable: proses tersebut setidaknya didokumentasikan secara memadai sehingga upaya pengulangan langkah yang sama dapat dilakukan.
  3. Defined: proses didefinisikan/dikonfirmasi sebagai proses bisnis standar
  4. Capable: proses ini dikelola secara kuantitatif sesuai dengan metrik yang disepakati
  5. Efficient: manajemen proses mencakup optimisasi/peningkatan proses yang disengaja

Setiap maturity levels merupakan Key Process Areas yang menjadi karakteristik dari setiap level, untuk setiap bidang tersebut ada lima faktor: tujuan, komitmen, kemampuan, pengukuran, dan verifikasi. Faktor tersebut tidak selalu unik bagi CMM. Model ini memberikan rangkaian teoritis di mana proses kematangan dapat dikembangkan secara bertahap dari satu tingkat ke tingkat berikutnya.

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Capability_Maturity_Model

www.cobitindo.blogspot.com

Bagikan:

Menu

[yikes-mailchimp form=”2″]

×

Powered by WhatsApp Chat

× Apa yang bisa kami bantu?